Ramadhan, Pengunjung Gili Didominasi Penumpang ‘’Fast Boat’’

Wisatawan saat menyeberang ke Gili Trawangan (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Kunjungan ke objek wisata tiga Gili (Trawangan, Meno, Air) relatif normal selama bulan puasa Ramadhan kali ini. Dalam keadaan low season, 3 Gili masih didatangi 800-900 orang per hari.

Demikian diakui General Manajer Hotel Wilsons Retreat, Lalu Kusnawan, Kamis,  9 Mei 2019. Ia mengakui, angka kunjungan sebanyak itu didominasi oleh penumpang fast boat yang direct dari Bali ke Gili. Dengan perkiraan tambahan penumpang dari Bangsal dan Teluk Nara sebesar 2 persen, maka angka kunjungan ke Gili saat Ramadhan tidak berdampak aktivitas puasa.

“800 orang itu untuk ke Trawangan saja, masih stabil. Dalam 3 hari ini, arrival 900 turun ke 800,”  katanya.

Kusnawan membandingkan, suasana aktivitas Ramadhan di Gili relatif sama dengan aktivitas wisatawan saat perayaan Nyepi di Bali. Saat Nyepi, hanya sebagian kecil wisatawan yang memilih keluar dari Bali ke Lombok, NTT ataupun ke objek wisata provinsi lain. Sedangkan sebagian besar wisatawan lebih memilih menikmati suasana Nyepi di bawah kendali awig-awig masyarakat dan budaya setempat.

“Kalau kita copy paste hari raya Nyepi di Bali, mereka bisa ikut terlibat. Kalau di Gili, wisatawan juga bisa menyesuaikan, menghormati kalau kita membuat awig-awig. Misalnya di depan masjid tidak boleh pakai bikini, mereka fine-fine saja,” ujarnya.

Menurut Manajer Wilson ini, lingkungan 3 Gili masih cukup kental menganut kearifan lokal. Selama puasa, warga setempat tidak perlu menunggu edaran dari pemerintah daerah. Dengan awig-awig masyarakat desa/dusun setempat, suasana siang dan malam Ramadhan tetap terjaga.

Pada siang hari, masyarakat tidak diperbolehkan berjualan makanan secara terbuka. Satu-satunya tempat menyediakan makanan yang tetap buka adalah restoran milik hotel. Sedangkan pada malam hari, warga sudah mengatur bahwa selama Ramadhan tidak diperbolehkan live music party di semua tempat. Jenis musik yang diperbolehkan hanyalah pengantar makan.

“Pihak desa juga sudah turun dan mengajak kita semua untuk tertib. Termasuk trotoar, Desa sudah mulai membatasi agar fasilitas umum ini tidak dijejali oleh PKL dan rental sepeda,” imbuhnya. (ari)