Potret Miskin Keluarga Disabilitas di KLU

Keluarga penyandang disabilitas di Dusun Kerurak (Kampung Pelelan), Desa Persiapan Segara Katon, Kecamatan Gangga yang membutuhkan uluran tangan pemerintah. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Menjalani kehidupan sebagai warga kurang mampu, (mungkin terdengar lumrah). Namun menjadi tidak lumrah, manakala hidup serba kekurangan dihadapi oleh satu keluarga penyandang disabilitas. Kondisi itu dihadapi oleh Amaq Mawardi alias Mursam dan Inaq Sumarni. Seperti apa potretnya?

Tongkat dari potongan ranting kayu menjadi penuntun Inaq Sumarni (58). Selangkah demi selangkah kakinya berjalan, dari berugak menuju pondok tempat suaminya berbaring. Hampir saja, kakinya tersangkut akar pohon mangga – di pekarangan tempatnya tinggal.

Warga Dusun Kerurak (Kampung Pelelan), Desa Persiapan Segara Katon, Kecamatan Gangga ini, sudah sejak lama hidup seadanya. Amaq Mawardi (70) – sejak sebelum gempa, tidak lagi normal berjalan kaki. Ditambah lagi, kedua lututnya dan betis tertimpa batako pada malam kejadian gempa, 5 Agustus 2018. Sejak peristiwa itu, praktis ia hanya bisa berbaring. Seminggu sekali saat ibadah Salat Jumat, ia terpaksa menggunakan kursi roda bantuan Yayasan Endri’s Foundation. Bagi Amaq Mawardi, ia hanya bisa pasrah dengan kondisinya kini.

Setali tiga uang, Inaq Sumarni, nyaris tak bisa berbuat banyak untuk membantu suami. Sejak 10 tahun lalu (bahkan lebih), kedua matanya buta. Secara fisik, perempuan dengan 5 orang anak ini masih mampu melayani suami. Namun keterbatasan penglihatan memaksanya hanya bisa berdiam berdiri. Satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan adalah, memasak nasi. Itu pun dengan tungku tanah liat berbahan bakar kayu.

“Sudah lama, sekitar 10 tahun. Sepulang dari jenguk cucu di Rempek (Kecamatan Gangga), 3 hari kemudian penglihatan saya buram. Sampai akhirnya tidak bisa melihat sama sekali,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Minggu (7/4).

Pasangan ini memiliki 5 orang anak. Satu-satunya anak lelaki adalah si sulung, Mawardi. Profesinya sebagai penjaga pintu air dengan honor dari Pemda KLU yang tidak seberapa. Selebihnya, Mawardi hanya mengandalkan hasil panen kelapa dari kebun keluarga yang ditungguinya. Luasnya tidak seberapa. Pascagempa, keluarga ini hanya panen sekali. Jumlah yang bisa dijual 300 butir saja.

Anak kedua sampai ketiga keturunan Amaq Mawardi sudah menikah. Mereka diboyong suami. Ada yang berdomisili di satu desa, lain desa satu kecamatan, hingga diboyong merantau ke Kalimantan oleh suaminya.

Tinggallah Nuraniah (29). Putri bungsu ini seorang diri, menemani dan melayani kedua orang tuanya, setiap hari. Untung tak bisa diraih. Nuraniah berstatus disabilitas. Ia bisu, juga tuli.

Diceritakan Sumarni, anaknya mulai mengidap tunawicara saat berusia 1 atau 2 tahun. Saat Nur baru mulai belajar merangkak, ia jatuh sakit.

Dikutip dari berbagai sumber, Nuraniah diperkirakan mengidap tongue tie atau gangguan bawaan lahir yang dicirikan dengan frenulum linguae yang pendek pada lidah, yang menyebabkan gerakan lidah menjadi terbatas. Frenulum linguae adalah lipatan mukus membran yang membentang dari bagian bawah mulut dan terhubung hingga bagian tengah bawah lidah. “Sebelum sakit, Nur bisa belajar bicara. Ia masih bisa memanggail nama orang tua,” imbuh Sumarni.

Tidak hanya bisu, Nur juga mengidap tuli alias tidak bisa mendengar. Kekurangannya ini menyebabkannya tidak bisa mengakses pendidikan sejak kecil. Tidak ada tawaran Sekolah Luar Biasa (SLB) dari pemerintah kepadanya. Saat kedua orang tuanya masih bugar, hari-harinya dihabiskan untuk bermain. Di usia remajanya, ia mulai belajar mencari uang menghidupi kedua orang tuanya.

Ia terjun sebagai kuli, buruh pertanian, hingga tukang cuci panggilan. Upah yang ia dapat, ia atur untuk membeli beras dan lauk pauk. Nur dibantu oleh saudara sulungnya, Mawardi. Namun ia lebih berperan untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari orang tuanya. “Upah cuci Rp 25 ribu untuk 2 ember cucian,” akunya dengan bahasa isyarat tangan.

Usut punya usut, Amaq Mawardi sejatinya punya pengalaman mengajar. Dulu di tahun 1980-an, ia masuk sebagai jajaran pendiri Diniyyah Islamiyyah, Dusun Kertaraharja. Sayangnya, sekolah itu bangkrut dan ditutup.

Mawardi memiliki bekal keilmuan dari menimba ilmu di MTs Nurul Huda, Gondang. Sebuah sekolah di bawah Yayasan Nahdlatul Wathan, sekaligus madrasah tertua di Kabupaten Lombok Utara. Sayangnya, ia tidak menamatkan sekolah apalagi sampai memiliki ijazah.

Kini keluarga ini hanya bisa pasrah dan berharap ada sokongan bantuan dari Pemerintah daerah KLU. Sebab sejak lama, mereka tidak memperoleh jatah dari berbagai program, apakah jaminan Lansia atau apapun namanya. (ari)