Pasien DBD Meninggal, Keluarga dan Dikes KLU Beda Keterangan

Ilustrasi Nyamuk Malaria (Suara NTB/maxpixel)

Tanjung (Suara NTB) – Diduga terkena Demam Berdarah dan Dengue (DBD) Muhajirin, S.Pd.I., – pasien asal Dusun Dasan Anyar, Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, meninggal dunia Selasa,  26 Maret 2019 petang. Sebelum meninggal, almarhum sempat dirujuk ke Puskesmas Tanjung selama 2 hari berturut (Senin – Selasa). Pelayanan puskesmas kepada pasien inilah yang disesalkan keluarga, karena dinilai tidak optimal.

Menurut informasi kerabat almarhum, Hambali, kepada Suara NTB, Rabu,  27 Maret 2019, almarhum yang berstatus masih bekerja di salah satu hotel di Gili Trawangan ini mengidap demam. Senin,  25 Maret 2029, saat ini berada di kampungnya, oleh keluarga ia dirujuk ke Puskesmas Tanjung. Setelah diperiksa oleh tenaga medis setempat, yang bersangkutan diberi obat dan disarankan untuk menjalani perawatan di rumah.

Setiba di rumah, kondisi demam almarhum tidak berubah. Akhirnya pada Selasa pagi, sekitar pukul 9 atau pukul 10 pagi, almarhum dirujuk kembali ke Puskesmas Tanjung. Karena merasa kurang fit, keluarga almarhum meminta check up. Hasilnya kurang lebih sama dengan pemeriksaan Senin.

“Pasien merasa sangat down tenaganya, sehingga pihak keluarga meminta diinfus. Tapi pihak Puskesmas jawab tidak apa-apa, akhirnya tidak diinfus,” kata Hambali.

Seperti hari sebelumnya, petugas puskesmas kembali  menyarankan almarhum menjalani perawatan di rumah. Setelah diberikan obat, pasien akhirnya dipulangkan Selasa siang. Selang 4 jam kemudian, atau sekitar pukul 18.00 WITA, keluarga mendapati kondisi fisik pasien sangat lemah. Akhirnya almarhum diputuskan dirujuk ke RSUD Tanjung. Naas, takdir tak bisa dilawan. Oleh dokter RSUD, pasien dinyatakan telah meninggal 20 menit sebelumnya. “Kami paham ajal itu takdir, tapi kami sayangkan pelayanan Puskesmas tidak maksimal,” ujar Hambali.

Terpisah, Kepala Dikes KLU, H. Khaerul Anwar,  yang dikonfirmasi mengakui baru mendapat kabar perihal meninggalnya pasien dengan gejala DBD. Informasi awal yang ia terima justru dari media. Khaerul pun melakukan konfirmasi langsung kepada pihak Puskesmas Tanjung. Dari keterangan yang didapat, Kadikes KLU menyebut pasien tidak mengidap Demam Berdarah, melainkan Demam Dengue.

“Dia bukan demam berdarah, tapi demam dengue namanya. Dia sempat dirawat di Puskesmas Tanjung, karena dia tidak begitu berat sakitnya, jadi dia dipulangkan. Tapi tetap keluarganya minta dirawat, akhirnya kita infus. Dan itu sesuai laporan yang disampaikan puskemas,” papar Khaerul.

Saat ditanya perihal SOP penanganan pasien DBD, Khaerul – dari laporan puskesmas mengklaim, penanganan yang dilakukan kepada almarhum sudah sesuai, karena sebenarnya, puskesmas sudah memeriksa dan memberi obat sesuai diagnosa.

Ia melanjutkan, dipulngkannya pasien Muhajirin dari puskesmas, karena permintaan pihak keluarga. Puskesmas tidak memulangkan sebagaimana diinformasikan.

“Dan memang diduga orang ini dia ada penyakit jantung, karena itu hasil pemeriksaan. Sebab kalau demam dengue, itu tidak bisa meninggal langsung seperti itu dalam waktu sedekat itu (sejak diberikan obat). Hanya saja, pemeriksaan (jantung) tidak dilakukan, karena indikasinya tidak mengarah ke sana.

Lagi pula, tambah Khaerul, bahwa menurut dokter pemeriksa, pasien sebenarnya bisa dirawat di rumah. “Tapi dari analisa dokter kemungkinan (meninggal) dari itu, penyakit jantung. Karena kalau demam biasa, pasti prosesnya panjang. Dan saran saya yang terpenting puskesmas sudah mengerjakan itu sesuai SOP lah, kita harapkan kerjasamanyakah untuk pelayanan ini,” tandasnya. (ari)