Pelaku Wisata KLU Ajak Wisatawan ‘’Menggibung’’

Keluarga salah satu wisatawan sedang menikmati makanan yang disajikan di acara Gili Menggibung, Sabtu, 23 Maret 2019. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU) hingga saat ini masih menghadapi kelesuan pascabencana gempa tahun 2018 lalu. Sebagai upaya mendongkrak kembali jumlah kunjungan, para pelaku pariwisata Gili Trawangan mencoba menggelar event budaya dengan melibatkan partisipasi wisatawan.

Event dimaksud adalah Gili Menggibung, yakni tradisi makan dengan cara menggibung atau bersama-sama. Di kalangan masyarakat Lombok, makan menggibung sudah lumrah. Namun bagi wisatawan asing, makan bersama menurut kebiasaan adat dan budaya, merupakan hal yang baru mereka jumpai.

Menggibung menurut adat masyarakat Lombok Utara, mulai dari menu makanan yang disajikan di atas nampan, dari penyiapan dan pengolahannya dilakukan oleh para laki-laki. Cara ini umum dilakukan oleh masyarakat saat acara pesta adat.

Sebelum menggibung dimulai, para tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda Dusun Gili Trawangan dan wisatawan yang terlibat, mengarak nampan dari Hotel Wilson Retreat menuju venue di Hotel Desa Dunia Beda. Peserta arak-arakan berjalan kaki sejauh 100 meter, diiringi gamelan Tawak-tawak Dusun Telaga Maluku, Desa Tempek, Kecamatan Gangga dan gamelan Gendang Beleq, Karang Panas, Kota Mataram. Kedua gamelan ini sengaja dihadirkan oleh pelaku wisata, karena memiliki ciri khas dibanding gamelan lainnya.

Tiba di pintu masuk venue, wisatawan disuguhi tontonan prosesi serah terima sajian makanan secara adat. Setelah itu, para tamu kalangan wisatawan asing dan domestik, dipersilakan duduk di lobi acara.

Para tamu duduk mengelilingi nampan berisikan beragam makanan khas Lombok. Ada nasi, sate Tanjung, urap, sayur lebui, dan lainnya. Ada juga jajanan khas Lombok seperti cerorot dan nagasari sebagai sajian pembuka.

Para wisatawan diedukasi bagaimana budaya Lombok saat menerima makanan. Dari cara duduk, wisatawan laki-laki diajak duduk bersila, sedangkan wisatawan perempuan duduk bersimpuh. Saat akan menyantap sajian, wisatawan kembali diedukasi filosofi ketaatan dan toleransi kepada orang yang dituakan. Ini tercermin saat mencuci tangan, sebelum dan sesudah makan. Orang yang dituakan pada kelompok menggibung didahulukan mencuci tangan, baru diikuti yang lainnya.

Pada saat makan pun, wisatawan tidak diperkenankan menggunakan peralatan, melainkan harus makan menggunakan tangan. Minumnya, para wisatawan disiapkan kendi tanah liat. Air diminum langsung tanpa menggunakan gelas. Setelah doa dibacakan bersama, para wisatawan pun menyantap makanan secara bersama-sama.

Prosesi itu cukup berkesan bagi wisatawan. Audrey wisatawan asal Australia, mengaku sangat terkesan dengan prosesi adat tersebut. Ia baru melihat budaya makan bersama yang menyelipkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan seperti yang ia lalui. ‘’Ini pertama kalinya saya mengikuti tradisi unik seperti ini. Saya sangat terkesan,’’ katanya.

Ketua Panitia Gili Menggibung, Lalu Kusnawan, mengatakan event ini sengaja digelar melalui inisiatif pengelola hotel, dukungan tokoh adat dan masyarakat setempat. Dalam event ini, wisatawan lokal dan mancanegara dilibatkan langsung. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga diarak, dan ikut menggibung.

Pascabencana gempa, perkembangan sektor pariwisata di Gili Trawangan belum pulih. Terlebih saat ini, Kusnawan mengaku cukup berat mengelola sektor wisata di tengah okupansi penginapan yang rendah. ‘’Melihat animo wisatawan yang cukup tinggi, kami bertekad agenda ini akan berlangsung setiap tahun,’’ ucapnya.

Sementara, tokoh masyarakat sekaligus budayawan, Lalu Win Supriatna menambahkan, pihaknya mendorong gelaran Gili Menggibung dengan tujuan-tujuan promosi destinasi wisata pascagempa. Ia tidak ragu saat awal rencana event, beberapa pengelola hotel menawarkan agenda promosi budaya untuk mencitrakan bahwa Lombok Utara khususnya tiga gili sudah aman dikunjungi.

’Gili Menggibung ini sengaja dikemas secara adat, dimulai dari penyiapan makanan. Arak-arakan, sampai makan bersama itu sendiri. Masyarakat luar harus tahu makna dan filosofi dari makan bersama ini,’’ jelasnya sebelum event dimulai.

Ia berharap, perkenalan budaya yang mengandung pesan edukatif dan syarat pesan moral di masyarakat KLU ini lebih sering digelar. Tidak hanya oleh pengelola jasa wisata, tetapi juga stakeholder lain. Mengingat sektor wisata tiga gili, menjadi primadona wisatawan sekaligus lumbung PAD pemerintah daerah. Jika sektor ini lesu, harapan kebangkitan ekonomi pascagempa dikhawatirkan akan melambat. (ari)