Puting Beliung Terjang KLU, Huntara Rusak, Warga Mengungsi

Huntara warga korban gempa di KLU hancur diterjang angin puting beliung, Selasa, 22 Januari 2019 malam mengakibatkan warga kehilangan tempat berteduh.

Tanjung (Suara NTB) – Angin puting beliung, gelombang pasang dan banjir, menerjang wilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU), Selasa malam, 22 Januari 2019. Bencana alam itu mengakibatkan sarana hunian sementara (Huntara) warga rusak parah. Angin kencang serta naiknya air laut, memaksa warga yang bermukim di pinggir pantai mengungsi.

Pantauan Suara NTB, Rabu, 23 Januari 2019 pagi  kemarin, Huntara warga di Dusun Karang Bedil, hancur diterbangkan angin. Pengakuan warga setempat, Huntara yang terbuat dari material baja ringan beterbangan akibat kencangnya sapuan angin yang terjadi sejak Rabu pukul 22.30 Wita hingga Kamis, 24 Januari 2019, pukul 03.00 Wita dini hari.

Koordinator Pengungsi Karang Bedil, Hastomo, mengatakan,, angin puting beliung pada Selasa malam disertai dengan hujan lebat datang secara tiba-tiba. Di lokasi pengungsian warga yang berada di persawahan dusun setempat, tercatat sudah dua kali ini diterjang angin kencang. Pada kejadian kedua Selasa malam, sapuan angin terasa dampaknya. Nyaris tidak ada satu pun Huntara baja ringan yang bertahan. Seluruhnya rusak. Yang bertahan, rata-rata Huntara yang beratap daun kelapa.

Hastomo mengatakan, saat peristiwa terjadi, ia dan warga lain sedang berteduh di pengungsian. Saat itu, kekhawatiran pertama adalah angin. Mereka takut atap berhamburan dan menimpa warga. Setelah angin reda, ia mengajak semua warga, 62 KK (261 jiwa) di pengungsian itu, segera pindah dan mengungsi ke mushala terdekat. Sebagian yang lain, memilih menumpag di Huntara milik keluarga dan tetangga.

‘’Syukurnya tidak ada korban jiwa. Tetapi angin kencang membuat Huntara terangkat, naik ke atas, berputar dan terbang ke sebelah pengungsian. Sekarang ini semua Huntara hancur,’’ katanya.

Baca juga:  Daerah Rawan Bencana, NTB Harus Punya Mitigasi Bencana yang Baik

Selama di pengungsian ini, sambung dia, pihaknya sejak awal berharap banyak segera bisa pulang ke kediaman masing-masing. Hanya saja kendala warga, mereka tidak memiliki lahan alternatif untuk membangn Huntara di bekas rumah mereka.

Hastomo menambahkan, pagi hari pascaputing beliung, ia dan warga di hadapan Kepala Dinsos PPPA KLU, H. Faisol, menyebut sejumlah bantuan yang dibutuhkan. Kebutuhan mendesak meliputi bahan pangan, selimut, dan huntara pengganti.

Sementara di Dusun Jambianom, Desa Sokong, kecamatan Tanjung, Selasa malam sudah dihantui ancaman naiknya air laut. Hal itu mengakibatkan warga yang tinggal di bibir pantai, mengungsi ke perkampungan seberang jalan raya.

‘’Tadi malam air laut sempat pasang, untungnya tidak terlalu besar. Tetapi kondisi itu membuat warga mengungsi saat tengah malam,’’ aku warga, Aris.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusdalop BPBD KLU, hujan dengan intensitas sedang yang turun dari Selasa sore hingga tengah malam, mengakibatkan air pasang di sejumlah dusun. Seperti di Lekok Utara, Desa Gondang. Di tempat ini, 18 KK  (41) jiwa mendapati rumahnya  terendam air. Begitu juga di Dusun Kerakas, Desa Genggelang, rumah milik 34 KK (117) jiwa, terendam air pasang.

Di Dusun Karang Bedil, Desa Gondang sendiri, BPBD mencatat pengungsi di Montong Dewa, sebanyak 71 KK (227) jiwa diporak porandakan angin kencang di sertai hujan lebat. Kondisi pengungsian warga rusak berat, sehingga memaksa warga mengevakuasi diri secara mandiri.

Baca juga:  Ratusan Miliar Dana Bencana Mengendap Jadi Catatan BPKP

‘’Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD KLU, sudah melakukan langkah-langkah penanganan. Antara lain, mengevakuasi barang-barang milik warga ke lokasi yang lebih aman. BPBD dibantu TNI, Polri dan masyarakat sekitar,’’ ujar Pusdalop BPBD, Araruna.

Selain itu, TRC BPBD juga mengevakuasi pohon tumbang yang menutup jalan utama. Sementara ini, pohon tumang tercatat di 21 titik se KLU. BPBD juga mencatat sejumlah kebutuhan pengungsi, antara lain terpal, logistik pangan dan sandang, serta hunian sementara sebagai pengganti Huntara yang rusak.

Di tempat terpisah, Kabid Resos – Dinsos PPPA KLU, Sariman, mengatakan, pihaknya sudah mendistribusikan beras sejumlah 73 karung atau setara 730 Kg kepada warga. Ditambah mi instan masing-masing 10 bungkus per KK.

‘’Sementara ini bantuan dari provinsi, karena stok di gudang memang tidak ada,’’ kata Sariman.

Pihaknya juga akan memantau kebutuhan logistik warga di 4 titik banjir rob, antara lain di Teluk Ombal, Desa Pemenang Barat, Dusun Sorong Jukung, Desa Pemenang Timur, Dusun Jambianom, Desa Sokong, dan Dusun Penyambuan, Desa Tanjung.

Kabid Logistik, Dinsos Provinsi NTB, Amran yang turun pascabencana puting beliung menambahkan, pihaknya hadir langsung atas instruksi pimpinan. Ia membawa beberapa logistik. Meliputi, selimut, terpal, kasur lipat, mi instan, makanan siap saji dan lauk pauk. Kemudian  beberapa unit tenda serta perlengkapan dapur umum.

‘’Dari Dinsos provinsi, langkah selanjutnya mengimbau masyarakat agar ke depan bisa menghindari Huntara karena ini sudah terjadi dua kali. Warga diimbau menempati tempat yang lebih aman,’’ pesannya. (ari)