Tinggal Sebelah Kandang Sapi, Inaq Resi Baru Dapat Bantuan

Tanjung (Suara NTB) – Inaq Resi (55 tahun), warga Dusun Getak Gali, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, sudah sejak lama mengidam-idamkan bantuan rehab rumah kumuh dari pemerintah. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya doanya terkabul walaupun rehab rumahnya bukan dari program Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Hidup sebatang kara telah dilalui Inaq Resi selama belasan tahun belakangan. Menyandang status janda, Inaq Resi ditinggal suami tercinta ke pangkuan Ilahi. Memiliki anak semata wayang, Inaq Resi awalnya berharap anaknya menjadi tulang punggung sekaligus kepala keluarga baginya. Namun siapa sangka, saat putranya menginjak dewasa, anaknya pun dijemput sang Khaliq.

Tak punya kekayaan, juga warisan, menyebabkan Inaq Resi hidup apa adanya. Kesehariannya hanya diisi dengan pekerjaan “mengukur” sepanjang jalan ibukota Tanjung. Apalagi kalau bukan pekerjaan sebagai pemulung. Pendapatannya sehari pun tak tentu. Kadang hanya cukup untuk membeli beras, tanpa bisa membeli lauk. Adakalanya penjualan dari plastik bekas tak mencukupi harga beras sekilo. Maka ia pun terpaksa membeli nasi bungkus.

Jumat, 18 Agustus 2017, Inaq Resi tak kuasa menitikkan air mata. Setelah Komunitas Gerakan Rakyat 10.000 (GR 10.000) KLU, Laznas BMH NTB, dan jajaran Polres Lombok Utara menyambangi kediamannya. Rumah Inaq Resi yang faktanya bersebelahan dengan kandang sapi, diperbaiki dari kerjasama lintas lembaga tersebut.

“Saya sangat haru dan berterima kasih sudah diperhatikan. Selama ini saya berharap ada bantuan,” ucapnya.

Ketua Komintas GR 10.000 Asmuni Bimbo, termasuk salah satu yang berperan menemukan kondisi Inaq Resi. Begitu mendapat informasi, ia langsung menyisir warga tersebut. Terbukti, Inaq Resi termasuk salah satu yang luput dari perhatian pemerintah karena keadaannya yang kurang mampu tidak ditanggapi serius oleh pemerintah.

“Saat kami temui, beliau tinggal satu lokasi dengan kandang sapi. Hanya dibatasi bedeng yang sudah lapuk. Akhirnya kami putuskan Inaq Resi sebagai prioritas,” ungkapnya.

Oleh karena hidup menyendiri, kediaman Inaq Resi dipermak seukuran 4×3 meter. Dengan desain konstruksi yang layak huni dan layak sehat. Bekerjasama dengan Laznas BMH NTB, Polres Lombok Utara dan warga, GR 10.000 terlibat langsung menggerakkan swadaya masyarakat sekitar untuk membangun rumah tersebut.

“Karena ini gotong royong, kami perkirakan biayanya sekitar Rp 8,5 juta. Dari Laznas sendiri sudah masuk sekitar Rp 1,7 juta dan Polres Lombok Utara menyumbang 10 sak semen. Kami targetkan rumah ini selesai paling tidak sebulan,” ungkap Bimbo.

Bagaimana dengan bantuan Pemda? Menjawab itu Bimbo lebih memilih tak berkomentar. Ia menyadari, program GR 10.000 dalam memperbaiki Rumah Kumuh telah “diadopsi” oleh Pemkab Lombok Utara. Bahkan sudah dilaunching menjadi Jumat Berkah atau Jumat Bedah Rumah. “Dari Pemda tidak ada, semua dari donasi yang kita himpun dan uluran dari Polres Lombok Utara dalam bentuk material semen,” pungkasnya. (ari)