Selamat Bedugul di Lombok Utara, Ritual untuk Menyelamatkan Mata Air

Tanjung (Suara NTB) – Sebagai sumber kehidupan, keberadaan mata air perlu dijaga kelestariannya. Hanya saja, masih sedikit kelompok masyarakat yang peduli terhadap keberlangsungan sumber air. Di sebagian yang lain, kelompok masyarakat adat masih memberlakukan ritual untuk melindungi kelestarian mata airnya. Salah satu yang terlihat, aktivitas Selamet Bedugul kelompok masyarakat adat Pendua, Kecamatan Kayangan.

Minggu, 21 Mei 2017, ratusan masyarakat Dusun Sentul Desa Pendua, terlihat berpartisipasi menyerbu kawasan Mata Air Lokok Songkang. Salah satu dari 5 mata air yang dilestarikan sebagai sumber air untuk usaha Pamdus masyarakat selain Lokok Cempaka, Lokok Buyut, Lokok Songkang dan Lokok Brora. Melalui Selamet Bedugul, masyarakat menunaikan hajatnya. Melestarikan hutan pascapanen sekaligus menunaikan doa mata air terjaga keberlangsungannya.

Sejak H – 5, kaum perempuan sudah mempersiapkan diri menyiapkan penganan untuk Selamet Bedugul. Menggunakan nampan, hasil panen sawah dan kebun diboyong ke tempat acara. Di titik mata air, sesepuh adat memimpin ritual sembari memanjatkam doa – doa hajat.

“Selamet Bedugul tetap kami lakukan secara turun temurun. Untuk skup kecamatan, selamatan dilakukan di Bendungan Santong,” kata Pemanglu Adat, Amaq Ruhani.

Tokoh masyarakat yang juga Wakil Ketua DPRD KLU, Djekat Demung, menguatkan Selamet Bedugul merupakan ritual hajatan peninggalan nenek moyang. Ritual ini merupakan perwujudan dari rasa syukur warga atas rezki yang diterima. Namun, sebagian opini menganggap ritual masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang syirik.

“Secara logika, ini bentuk wujud syukur masyarakar karena hajatnya terkabul. Tidak salah masyarakat menyembelih kerbau, karena tujuannya untuk menyiapkan penganan warga. Bentuknya pun sesuai kemampuan, tidak harus kerbau,” katanya.

Djekat menilai, sebagian kecil masyarakat masih belum bisa memaknai kearfian lokal yang terbangun dari ritual adat. Misalnya, cara berpakaian adat. Sapuk (ikat kepala) dimaknai sebagai simbol penghormatan. Cara mengikat ujung sapuk di bagian depan dan atas kepala melambangkan perwujudan nama Illahi dengan huruf Alif Lam Lam Ha (Allah).

“Sampai seperti itu agungnya cara nenek moyang kita memberi simbol sehingga cara mengikat sapuk pun tidak sembarangan,” sambungnya.

Mata Air Desa Pendua saat ini dikelola sebagai sumber air Pamdus. Pionirnya Dusun Sentul. Saat ini sekitar 70-an KK memilih alternatif pemenuhan air bersih dari Pamdus alih-alih menerima masuknya PDAM.

Sejak didirikan tahun 2016 lalu, Pamdus terkelola secara baik dan diterima oleh semua warga. Tiap KK rata-rata menebus ke Pamdus antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per bulan.

“Tiap bulan dana yang terhimpun sekitar Rp 1 jutaan. Dana yang masuk kami kelola untuk perawatan prasarana Pamdus dan anggaran sosial warga. Contohnya, tiap anak yang hafal 1 ‘Ain di Al Qur’an kami berikan bonus antara Rp 20 ribu sampai 30 ribu per ‘Ain, warga yang kebagian jadwal membaca lontar kami bantu Rp 30 ribu sekadar mengganti biaya gula pasir,” kata Kadus Sentul Asli, Alwan Wijaya Kusuma.

Pemerintah Desa Pendua, mengapresiasi agenda Warga di Dusun Sentul itu. Ia mencatat, Desa Pendua saat ini dihuni 2.600 jiwa sudah terbagi ke dalam 7 Dusun. Selain Sentul Asli dan Dusun Sentul, Dusun Lokok Senggol juga merancang untuk membuka inisiatif usaha Pamdus.

“Tidak menutup kemungkinan Pamdus akan merata penyebarannya di Desa Pendua. Kami juga mendorong pemeliharaan mata air karena 80 persen masyarakat adalah petani,” ujar Kades, M. Abu Agus Salim Tohirudin.

Sebagai bentuk dukungan desa, pihaknya siap mengalokasikan anggaran pemberdayaan masyarakat 7 Dusun pada perencanaan APBDes tahun depan. “Tahun ini pemberdayaan desa belum kita alokasikan karena sudah penetapan APBDes. Ke depan pasti kita anggarkan,” tutupnya. (ari)