Krisis Air Bersih di Lotim Terus Meluas

Sejumlah masyarakat tengah mengantre bantuan air bersih dari pemerintah. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Musim kemarau dan krisis air bersih di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terus terjadi. Hingga saat ini, hujan yang diharapkan masyarakat belum cukup turun di Gumi Selaparang ini. Menyikapi krisis air bersih yang terus meluas ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim bekerjasama dengan berbagai pihak dalam mendistribusikan air bersih.

Kepada Suara NTB, Rabu,  11 Desember 2019, Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, Lalu Rusnan, menyebutkan jika pihaknya setiap hari menerima permintaan untuk dilakukan pendistribusian air bersih. Di mana saat ini kekeringan meluas menjadi 12 kecamatan bahkan lebih yang harus dilayani air bersih. Kondisi ini terjadi lantaran tidak pernah turun hujan di Kabupaten Lotim.

Disebutkannya, wilayah-wilayah kekeringan ini dilayani secara bergilir seiring dengan keterbatasan armada. BPBD hanya memiliki 4 armada dan sehari melayani masyarakat 4 hingga 8 kali. Menurutnya, idealnya dari 21 kecamatan di Kabupaten Lotim, disediakan satu kecamatan tersedia 2 armada mobil tangki air bersih. Dengan begitu kebutuhan masyarakat akan air bersih dapat terpenuhi.

Terlebih posisi saat ini Kabupaten Lotim sudah masuk dalam darurat kekeringan, sehingga pemerintah terus melakukan pendistribusian air bersih terhadap wilayah-wilayah yang dilanda kekeringan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Kemenag Lotim, PDAM, Dinas Sosial dan pihak terkait lainnya. Pendistribusian secara bergilir rutin dilakukan setiap hari sesuai dengan permintaan.

Pada musim kemarau ini, dari BPBD Lotim merencanakan dilakukan survei geolistrik untuk dilakukan pembangunan sumur bor di lokasi yang masih mengalami krisis air bersih. Menurut Lalu Rusnan, pembangunan sumur bor merupakan solusi permanen dalam mengatasi krisis air bersih yang setiap tahun dialami oleh masyarakat di Kabupaten Lotim.

 “Kita juga melakukan sosialisasi dampak kekeringan terhadap masyarakat. Ini kita lakukan supaya masyarakat memahami dan mengetahui menyikapi bencana kekeringan,”ungkapnya.

Diketahui, sumur bor yang sudah terbangun saat ini tersebar di 15 titik, diantaranya 2 unit di Pandanwangi, 3 unit di Ekas Buana, 2 unit di Kwang Rundung, 2 unit di Menceh, dan 2 unit di Sambelia. Selanjutnya 1 unit di Obel-Obel, 1 unit di Belanting, 1 unit di Batu Nampar Selatan dan 1 unit di Batu Nampar. Sejumlah sumur bor itu berasal dari BPBD provinsi, dan BPBD Lotim dan pihak swasta. (yon)