Mesin Penyuling Air di Ekas Jerowaru Jadi Barang Rongsokan

Mesin penyuling air laut di Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru Lotim yang sudah menjadi barang rongsokan. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Mesin penyuling air laut di Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur (Lotim) sudah menjadi barang rongsokan. Mesin bantuan puluhan tahun lalu itu terbilang sudah tak bisa lagi diselamatkan.

“Sudah lama ini mangkrak,” ungkap warga Desa Ekas Buana Sahrum pada Suara NTB, akhir pekan kemarin.

Mesin penyuling air laut itu, ujarnya, ditujukan untuk menyediakan air bersih untuk warga Ekas. Namun, karena mesin penyuling air ini tidak sesuai harapan warga, dibiarkan jadi barang rongsokan. “Airnya payau,” ungkapnya saat menjelaskan hasil sulingan air dari mesin ini.

Sementara gudang tempat penampungan mesin itu pun kini sudah beralih fungsi oleh warga, yakni menjadi tempat tumpukan bekas tali pengikat rumput laut. Padahal, warga di Ekas ini masih membutuhkan air bersih, khususnya saat musim kemarau ini. “Kita masih terpaksa beli air,” sebutnya.

Kepala Desa Ekas Buana, Ahmad Nursandi yang dikonfirmasi terpisah, Rabu,  30 Oktober 2019 mengaku bantuan mesin penyuling air laut yang mangkrak itu sudah lama. Menurutnya, warga Ekas menerima bantuan dari pemerintah pusat sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah. “Kalau tidak salah waktu saya masih duduk di Tsanawiyah atau Aliyah,” urainya.

Melihat kondisi mesin dan peralatan pendukung lainnya yang sudah rusak, maka tidak memungkinkan lagi untuk bisa difungsikan. Mesin utama dari penyuling air itu tidak diketahui keberadaannya. Terlihat hanya rongsokan tabung, pipa dan mesin yang sudah karatan.

Hadirnya mesin penyuling air ini awalnya diharap bisa menjadi solusi persoalan krisis air bersih yang melanda 1000 Kepala Keluarga atau sekitar 3.500 jiwa warga Ekas Buana. Namun, mesin tersebut sudah tidak bisa berfungsi.

Beberapa waktu lalu, pemerintah provinsi sudah mengunjungi Ekas Buana dan menjanjikan akan ada lagi bantuan mesin penyuling air. Harapannya bantuan tersebut segera direalisasikan. “Beberapa waktu lalu kabarnya sedang tinjauan lapangan dan mencari titik mana yang akan menjadi lokasi tempat menaruh mesin,” ucapnya.

Pihaknya berharap, mesin penyuling tersebut kembali ditempatkan di Ekas. Pasalnya, warga sudah lama mengeluhkan persoalan ketersediaan air bersih. Saat ini, warga terpaksa membeli seharga Rp 200 ribu per tangki untuk kebutuhan mandi, mencuci buang air besar. Sedangkan untuk minum, warga membeli air galon. (rus)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.