Kebakaran Rinjani Ganggu Wisatawan

Aktivitas wisatawan yang berada di pelawangan Rinjani, Senin (21/10) pagi. Pelaku wisata dan wisatawan mengharapkan kebakaran di kawasan Rinjani segera dilakukan, karena berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. (Suara NTB/Ruddy Trekker)

Selong (Suara NTB) – Kebakaran yang terjadi di Gunung Rinjani dinilai sangat mengganggu para wisatawan. Kepulan asap dari pembakaran kawasan Rinjani yang makin meluas ini diharapkan bisa tertangani lebih baik. Penanganan secara manual ini dinilai membutuhkan waktu yang cukup lama dan dikhawatirkan makin meluas kebakarannya.

Hal ini disampaikan salah satu pelaku pariwisata Lotim Rudi Treker kepada Suara NTB, saat dikonfirmasi, Senin, 21 Oktober 2019.

Pihaknya khawatir  Rinjani akan sepi dari kunjungan wisatawan kalau terus terjadi kebakaran. Apalagi di sebagian besar kawasan Rinjani sudah terbakar. “Saya membawa tamu naik dari Sembalun karena dari Senaru kan tutup,” ungkapnya.

Rudi mengemukakan, material padang savana sudah habis terbakar. Wisatawan pun terpaksa diajak turun. “Tadi pagi (Senin kemarin-red) api kembali muncul api di bawah pos II dan Pos I,” tuturnya. Kemunculan api ini dicurigai ada unsur kesengajaan. Indikasinya, banyak pengembala di dekat perkampungan.

Padang savana ini kabarnya sengaja dibakar menjelang memasuki musim hujan. Di mana saat hujan, rumput akan kembali hijau dan baik untuk pakan ternak. “Kita berharap sih tidak ada unsur kesengajaan membakar,” ucapnya

Para petugas dari

Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) diakui cukup responsif. Langsung bergerak cepat meski masih dilakukan penanganan secara manual. Kondisi cuaca yang ekstrem dan panas beberapa bulan terakhir ini dinilai juga menjadi pemicu cepat meluasnya api membakar rumput ilalang Rinjani.

“Api ini kan tergantung arah angin,” sebutnya. Kebakaran diakui setiap tahun terjadi, sehingga wisatawan yang mendaki saat ini sudah dilarang untuk membakar kayu untuk membuat api unggun. Namun, kondisi cuaca yang berbeda dan cenderung lebih panas ini dinilai menjadi pemicu mudahnya kawasan hutan savana Rinjani ini terbakar. Terjadi gesekan pohon saja langsung dengan mudah menimbulkan api.

Penanganan kebakaran harapannya ke depan tidak lagi manual. Rudi membayangkan ada hellikopter yang terbang membawa air dan menyiramkannya ke titik-titik api. Apalagi Rinjani saat ini menjadi milik nasional, bahkan sudah menjadi geopark dunia.

“Kita tidak tega melihat Rinjani terbakar dan penanganannya masih secara manual dan apa adanya oleh petugas,” imbuhnya. Kebakaran Rinjani diharap tidak membuat wisatawan kapok datang. Kebakaran Rinjani tidak boleh ditonton begitu saja. Harus ada penanganan lebih maksimal lagi,’’ ujarnya. (rus)