30 Desa Krisis Air Bersih, Sumur Warga Mengering di Lotim

Masyarakat yang jadi dilanda kekeringan antre saat ada pendistribusian air bersih dari pemerintah daerah beberapa waktu lalu. (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Sebanyak 30 desa di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) hingga pertengahan bulan Oktober 2019 ini dilayani air bersih. Sebanyak 30 desa tersebut tersebar di 7 kecamatan dengan rata-rata sumber-sumber air bersih masyarakat terutama sumur mengalami kekeringan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim, Lalu Rusnan, dikonfirmasi Suara NTB, Senin,  14 Oktober 2019.

Dikatakannya bahwa penanganan kekeringan khususnya krisis air bersih dilakukan secara maksimal. Artinya instansi terkait di Kabupaten Lotim bergerak secara bersama-sama dengan BPBD untuk mengatasi krisis air bersih terhadap 30 desa yang dilanda krisis air bersih saat ini. Sehingga diharapkan kebutuhan masyarakat akan ketersediaan air bersih dapat terpenuhi dengan baik.

 “Saat ini jumlah desa yang terdampak krisis air bersih sebanyak 30 desa dari 7 kecamatan, yakni Kecamatan Jerowaru, Keruak, Sakra Timur, Sembalun, Sambelia, Suela dan Terara. Wilayah-wilayah ini secara rutin kita layani dengan pendistribusian air bersih,” terang Rusnan.

Berdasarkan fakta di lapangan, rata-rata sumber-sumber air bersih masyarakat mengering serta debit air mengecil. Sehingga kondisi demikian tidak cukup untuk kebutuhan air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Sementara dalam pendistribusian air bersih ini, jumlah armada yang dikerahkan sebanyak 11 armada dengan 1 armada cadangan dengan

masing-masing pendistribusian sebanyak dua sampai tiga kali tergantung dari jarak tempuh tempat pengisian air bersih.

“Untuk pagi, semua armada mengisi air bersih di kantor BPBD. Berikutnya ada yang balik mengisi dan ada pula mengisi pada sumber-sumber mata air di luar sesuai arahan dari camat dan kades,” paparnya.

Di samping itu, disebutkan bahwa sumur bor yang sudah terbangun saat ini tersebar di 15 titik, di antaranya 2 unit di Pandanwangi, 3 unit di Ekas Buana, 2 unit di Kwang Rundung, 2 unit di Menceh, dan 2 unit di Sambelia. Selanjutnya 1 unit di Obel-Obel, 1 unit di Belanting, 1 unit di Batu Nampar Selatan dan 1 unit di Batu Nampar.

Sejumlah sumur bor itu berasal dari BPBD Provinsi, dan BPBD Lotim dan pihak swasta. Lokasi titik pembangunan sumur bor ini berdasarkan survei geolistrik BPBD Lotim bekerjasama dengan Dinas ESDM Lotim. Disebutkan bahwa sumur bor yang berfungsi saat ini hanya 80 persen, sementara sisasanya masih dalam proses perbaikan dikarenakan ketidakmampuan daya listrik.

Masyarakat di Kabupaten Lotim sudah dapat memanfaatkan keberadaan sumur bor yang masih beroperasi serta embung-embung masyarakat masih berair. Untuk menjaga keberadaan sumur bor itu, BPBD mengharapkan pemerintah desa supaya mengalokasi anggaran untuk perawatan dan pemeliharaan. “Pengajuan dari dana desa atau kecamatan untuk menganggarkan supaya keberadaan sumur bor tidak mangkrak,”harapnya. (yon)