Kemarau Panjang, Air Bendungan Pandanduri Terus Menyusut

Inilah kondisi ketersediaan air di Bendungan Pandanduri yang mengalami penyusutan terus menerus pada musim kemarau tahun ini. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Ketersediaan air di Bendungan Pandanduri terus mengalami penyusutan akibat tidak pernah turunnya hujan. Kondisi ini disebabkan musim kemarau yang masih terus berlanjut. Menyusut air di Bendungan Pandanduri membuat proses pelayanan terhadap saluran irigasi persawahan bahkan pengolahan air bersih terganggu.

Pantauan Suara NTB, hingga awal bulan Oktober ini. Ketersediaan air di Bendungan Pandanduri begitu memprihatinkan. Dasar bendungan saat ini mengering bahkan beberapa bagian bendungan dapat dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki. Kondisi ini dikarenakan dikarenakan kemarau panjang yang mengakibatkan sumber-sumber air maupun tidak adanya air hujan yang turun.

Bahkan, pintu air di bendungan ini beberapa bulan belakangan ini tidak pernah dibuka untuk pemenuhan kebutuhan saluran irigasi persawahan masyarakat. Sementara kondisi air yang menyusut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk meraup ikan, terutama yang hobi menancing.

“Sudah lama tidak dibuka untuk pintu air ini. Penyusutan air terjadi sejak musim kemarau dan terus menyusut setiap harinya,” ujar Inaq Sumiati, yang setiap hari berjualan di Bendungan Pandanduri.

Selain untuk saluran irigasi, menyusutnya air di bendungan yang terdapat di antara wilayah Kecamatan Sakra dan Terara berpengaruh terhadap pengolahan air bersih yang dibangun oleh PDAM Lotim untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah selatan. Pasalnya, saat ini sekitar 1.000 masyarakat sudah dapat dilayani oleh pengolahan air bersih bendungan raksasa tersebut.

Plt. Direktur Utama (Dirut) PDAM Lotim, H. Musta’an, menjelaskan, keberadaan Bendungan Pandanduri menjadi angin segar bagi masyarakat di wilayah selatan terlebih beroperasi pengolahan air bersih Bendungan Pandanduri untuk layak diminum. Di mana sarana prasarana pendukung berupa pipa sudah dibangun oleh BWS hingga ke lokasi pengolahan yang bertempat di Desa Rensing Kecamatan Sakra Barat, beserta jaringan.

Sedangkan untuk saluran yang masuk ke pelanggan-pelanggan PDAM mulai masuk hingga 1000 lebih pelanggan. Untuk Instalasi Pengolahan Air Lengkap (IPAL) sudah dimasukkan dalam komponen mesin pengolahan, ditampung dan disaring untuk pemisahan serta diberikan bahan kimia hingga menjadi air bersih untuk layak dikonsumsi.

Pengolahan air Bendungan Pandanduri menjadi air bersih untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Kabupaten Lotim bagian selatan. Untuk itu penyempurnaan-penyempurnaan terus dilakukan dengan proses pengaliran air Bendungan Pandanduri yang sudah diolah ini menyasar dua kecamatan yang sangat rawan krisis air bersih yakni kecamatan Keruak dan Jerowaru. Adapun air yang diambil dari Bendungan Pandanduri 50 liter per detik dengan lokasi pengambilan pada posisi terendah.

Hal ini sebagaimana perhitungan dari BWS, sehingga tidak ada istilah kekurangan air meski terjadi musim kemarau dan air Bendungan Pandanduri menyusut. “Jadi sudah ada penghitungan dari BWS, meskipun terjadi musim kemarau, ketersediaan air yang kita olah menjadi air bersih masyarakat tetap terpenuhi,” ungkapnya.

Bahkan pengambilan air di Bendungan Pandanduri ini dipastikan tidak akan menyebabkan kekurangan air pada bendungan raksasa itu, terutama untuk mengairi areal persawahan masyarakat. Dengan dilakukannya pengolahan air Bendungan Pandanduri menjadi air bersih, maka PDAM meyakini jika pelanggan air PDAM untuk di wilayah selatan akan bertambah mengingat air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat.

Sebelumnya, Bupati Lotim, H. M. Sukiman Azmy, MM., menegaskan jika keberadaan bendungan tersebut diharapkan lebih difokuskan kepada saluran irigasi untuk memenuhi ketersediaan air lahan pertanian masyarakat.

Menurutnya, air di Bendungan Pandanduri apabila musim mengalami penyusutan. Maka ketika air di Bendungan Pandanduri ini diolah menjadi air minum dan irigasi. Maka akan cepat habis sementara kebutuhan air banyak. Maka dari itu, untuk air minum harus fokus pada alam seperti mencari sumber mata air yang manajemen pengelolaan air itu disempurnakan.

Di samping itu, ketika masih terdapat instalasi air minum, maka khusus untuk melayani wilayah di sekeliling bendungan tersebut dan bukan untuk di daerah selatan seperti di Jerowaru, Keruak dan Sakra Timur. Bupati memastikan apabila dilayani ke wilayah selatan, ketersediaan air di bendungan ini akan cepat habis.

Disebutkan bupati, pengelolaan Bendungan Pandanduri merupakan penanganan pusat. Pemerintah daerah hanya dapat mengkoordinasikan pengelolaannya. “Alangkah baiknya jika air Bendungan Pandanduri fokus pada saluran irigasi,” sarannya. (yon)