Dua Kali Dikunjungi Presiden, Korban Gempa di Pedamekan Masih Tinggal di Tenda Pengungsian

Masyarakat korban gempa di Dusun Pedamekan Desa Belanting yang masih tinggal di bawah tenda. Padahal lokasi ini sudah dua kali dikunjungi Presiden. Joko Widodo, Senin (5/8). (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Masyarakat korban gempa bumi yang terjadi pada 29 Juli 2018 lalu nampaknya harus ekstra bersabar terutama dalam perbaikan rumah mereka pasca rusak diguncang gempa tahun lalu. Bagaimana tidak, setahun pasca gempa dahsyat yang terjadi. Korban gempa khususnya di wilayah Dusun Pedamekan Kecamatan Sambelia sampai saat ini masih banyak tinggal di bawah tenda-tenda beratapkan terpal. Padahal, di dusun ini sudah dua kali dikunjungi Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo.

Seperti pengakuan, Zaenal Mustakim  warga Dusun Pedamekan, Desa Belanting, setahun pascagempa, masih banyak yang tinggal di tenda. Termasuk dirinya. Ia bersama istrinya, Sabariah  dan dua orang anaknya satu tahun terakhir ini harus melawan panasnya terik dan dinginnya malam, karena rumah bedek yang ditempatinya saat ini hanya beratapkan terpal dan berdinding pagar. Terpal itu pun, kata dia didapatkan dari bantuan PMI, sementara pagar dibelinya secara swadaya.

Ada sekitar 20 persen jumlah kami di Dusun Pedamekan ini yang masih tinggal di bawah tendah-tenda seperti ini. Yang lain ada yang bangun rumah secara swadaya dan juga bantuan RTG,” tuturnya ditemui Suara NTB, Senin, 5 Agustus 2019.

Selama berada di bawah tenda, Zaenal Mustakim mengaku sering mengalami pilek dan demam. Bahkan diakuinya bahwa beberapa anggota keluarganya sudah tak nyaman. “Sakit sering, alhamdulillah tidak sampai parah,” ungkapnya.

Saat ini struktur kerangka bangunan Risha sudah berdiri di atas bekas pondasi rumahnya. Hanya saja, kerangka tersebut terkesan menganggur, karena bahan bangunan lainnya berupa material pasir, baja ringan, batu bata, semen belum ada yang datang. “Memang kita sudah dibangunkan kerangka RTG. Namun material yang lain tidak ada,” terangnya.

Semestinya, menjadi lokasi peninjauan presiden bahkan sebanyak dua kali. Pembangunan RTG sudah mencapai 100 persen, terutama dalam pencairan dana bantuan tersebut. Sementara faktanya, masih banyak masyarakat yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. “Dulu, Pak Presiden berjanji untuk segala sesuatu dipercepat. Dia melihat RTG yang terbangun cukup cepat. Tapi hanya hanya melihat bangunan di kantor desa,” terang Satariah, korban gempa lainnya.

Ia berharap pemerintah pusat benar-benar serius membangunkan kembali rumah-rumah warga korban gempa di daerah ini. Warga tidak ingin, persoalan itu tidak hanya sebatas janji, namun menjadi suatu kewajiban bagi pemerintah untuk memperhatikan dan melayani segala kebutuhan masyarakat yang dilanda musibah. “Untuk jadup saja kami tidak pernah dapat,” tambah Saodah, warga lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Camat Sambelia, Drs. Zaitul Akmal, MM, mengatakan bertahannya masyarakat di bawah tenda pengungsian dikarenakan kualitas dari tenda tersebut sudah dijamin. Disebutkan, jumlah rumah rusak berat sebanyak 3.900 lebih, rusak sedang dan ringan hampir mencapai 3.000 unit. “Kita sudah tawarkan untuk diganti dengan triplek, namun masyarakat dan PMI yang tidak mau karena kualitas dari terpal itu sudah dijamin mampu betahan hingga satu tahun lebih,” jelasnya.

Kendati demikian, ia berharap supaya masyarakat tetap bersabar karena proses pencairan dan pembangunan RTG sudah pasti akan dilakukan. Hanya saja butuh waktu karena pemerintah tidak hanya memperhatikan di wilayah Kecamatan Sambelia, melainkan korban gempa di daerah lain.

Akan tetapi dari pemerintah daerah cukup intens melakukan pemantauan terhadap progres pembangunan RTG. Di mana untuk Risha dan Risba dilakukan selama 45 hari, dan Riko 60 hari. Sedangkan untuk rumah yang dibangun secara swadaya tetap dilakukan pemantauan dan kualitasnya cukup baik. (yon)