100 Hektare Lahan Pertanian di Lotim Menyusut Tiap Tahun

Lahan pertanian yang masih produktif di Lotim. Tampak para buruh tani sedang panen, Minggu (4/8). Namun, setiap tahun lahan pertanian di Lotim terus menyusut akibat alih fungsi lahan. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Lahan pertanian di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terus mengalami penyusutan setiap tahun. Tak tanggung-tanggung, penyusutan terjadi berkisar antara 50 hektare sampai 100 hektare per tahun. Dari penyusutan dikarenakan konversi lahan pertanian menjadi perumahan, jalan usaha tani, sarana olahraga dan lainnya, lahan pertanian di Lotim saat ini tersisa hanya 48.250,1 hektare.

“Kita tidak pungkiri. Setiap tahun lahan pertanian kita mengalami penyusutan dikarenakan alih fungsi lahan. Penyusutan terjadi setiap tahun antara 50 hingga 100 hektare,” terang Kepala Dinas Pertanian (Distan) Lotim, Ir. H. Abadi, akhir pekan lalu.

Menyikapi hal itu, pemerintah terus berupaya memanfaatkan lahan-lahan kering untuk dicarikan sumber-sumber air baik secara alami maupun sumur bor. Langkah ini untuk menjaga ketahanan pangan di daerah ini di samping penyusutan lahan pertanian yang terjadi. Penyusutan yang terjadi ini cukup dirasakan dampaknya. Misalnya pada lahan yang dulunya bisa dilakukan penanaman padi, jagung dan lain sebagainya. Di setiap desa yang dulunya PPL mengawasi luas lahan 100 hektare saat ini hanya 50 hektare. “Kita juga sudah menggelar rapat menyikapi hal ini terkait lahan pertanian berkelanjutan,” terangnya.

Disebutkannya, beberapa tahun lalu juga sudah dibuat aturan supaya lahan pertanian tidak diperbolehkan dialihfungsikan selama kurun waktu selama 5 tahun berturut-turut dengan memberikan bantuan kepada pemiliknya sebesar Rp5 juta. Namun program itu dinyatakan tidak efektif.

Disebutkannya, kondisi lahan pertanian di Kabupaten Lotim sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 yakni lebih dari 48 ribu hektare. Hingga saat ini relatif tidak ada pengurangan, karena di samping terjadinya alih fungsi lahan, kondisi demikian diimbangi dengan dilakukannya cetak sawah baru. Di mana pada tahun 2016 cetak sawah dilakukan dengan luas 930 hektare dan pada tahun 2017 seluas 100 hektare. Sehingga jumlah itu sudah mencukupi bahkan lebih dari cadangan untuk mengimbangi alih fungsi lahan.

Ditegaskannya, seluruh cetak sawah baru sudah dapat ditanami padi, meski tidak secara menyeluruh. Namun ke depan, semuanya dapat ditanami padi seiring dengan ketersediaan air dan kondisi tanah yang layak untuk ditanami padi. “Untuk cetak sawah baru ada yang masih dilayani dengan sumur bor juga. Namun ada yang dari saluran irigasi,”jelasnya.

Pemkab Lotim berkomitmen untuk mencukupi ketersediaan pangan dengan cara menjaga ketersediaan lahan persawahan. Adapun alih fungsi lahan yang terjadi tidak terlalu signifikan karena masyarakat menggunakan lahannya sebatas untuk membangun rumah dengan luas satu atau dua are dan tidak ada pembangunan-pembangunan dalam skala yang cukup besar. “Memang ada alih fungsi, namun tidak banyak. Masyarakat kita sekadar untuk membangun rumah. Sementara, kita melakukan cetak sawah baru yang cukup luas,”ujarnya.

Ditegaskannya, alih fungsi lahan di Kabupaten Lotim memang cukup mengalami perbedaan jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya khususnya di NTB, seperti di Kota Mataram yang lahan pertanian terus menyusut dikarenakan pembangunan gedung-gedung pusat perbelanjaan dan sejenisnya. Sementara di Kabupaten Lotim, alih fungsi tidak terlalu signifikan serta tetap dilakukan cetak sawah baru. (yon)