Ditetapkan Tersangka, Penyidik Tahan Karyawan PT NTB Satwa

Pengacara pelapor, Ahcmad Syaifullah, menunjukkan laporan polisi kasus dugaan penggelapan uang perusahaan  yang diduga dilakukan oleh karyawan PT NTB Bintang Satwa di Mapolres Lotim beberapa waktu lalu dan Tersangka penggelapan dana perusahaan PT. NTB Bintang Satwa saat diamankan di Mapolres Lotim. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Lombok Timur (Lotim) menetapkan oknum karyawan PT. Nusa Tenggara Barat (NTB) Bintang Satwa, yakni M. Jun sebagai tersangka kasus penggelapan uang perusahaan setelah semua alat bukti lengkap. Bahkan oknum karyawan itu langsung ditahan penyidik begitu ditetapkan tersangka. Pelaku dijerat pasal penggelapan 374 dengan ancaman 4 tahun penjara.

Dikonfirmasi Suara NTB, Senin,  29 Juli 2019, Kasat Reskrim Polres Lotim, AKP I Made Yogi Purusa Utama, SE,SIK, mengatakan penetapan tersangka dan dilakukan penahanan setelah adanya alat yang cukup. Dijelaskan, sebelum ditetapkan tersangka pihaknya telah melakukan gelar perkara terhadap kasus tersebut.

Dengan memenuhi unsur untuk ditingkatkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan dengan menetapkan terlapor sebagai tersangka dan lakukan penahanan. Sedangkan dalam kasus ini terlapor diancam dengan Pasal 374 tentang penggelapan dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. “Hasil gelar yang kami lakukan terpenuhi bukti dan unsur, begitu juga lidik dan sidik sudah kami jalankan. Dari tugas sesuai dengan ketentuan itu kemudian kita tetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan,” tegasnya.

Kasus yang dilaporkan pimpinan perusahaan PT NTB Satwa ini terkait dengan masih dugaan penggelapan dana perusahaan yang dilakukan terlapor dengan mencapai ratusan juta rupiah pada tahun 2018. Sementara dari laporan yang ada, perbuatan dilakukan terlapor sejak tahun 2017 lalu. Di mana terlapor diduga secara diam-diam menggunakan uang perusahaan.

Terpisah kuasa hukum terlapor, Iskandar, SH., bersama partnernya  saat dikonfirmasi menegaskan setelah melakukan rembuk dengan klien dan keluarga terlapor, kliennya siap mengikuti proses hukum yang sedang berjalan. Selain itu, pihaknya dapat mengambil hikmah dari kasus ini, termasuk juga akan melakukan upaya  mediasi dengan pihak perusahaan. “Hasil rembuk klien kami akan menjalani proses hukum yang ada, sedangkan tugas kami selaku penasehat hukum untuk mengajukan penangguhan penahanan terhadap,”ungkapnya.

Sementara dari hasil percermatan yang dilakukan, Iskandar melihat bahwa kasus yang dialami terlapor ini merupakan kasus perdata, akan tetapi mungkin ada atensi dari penyidik sehingga dialihkan ke pidana, sehingga kemudian terlapor ditetapkan sebagai tersangka. Karena berdasarkan pengakuan kliennya tidak pernah mengajukan lamaran ke pihak perusahaan. Begitu juga SK tidak pernah didistribusikan kepada pelapor dan tidak pernah di kantor, termasuk menjadi bendahara gaji. “Sehingga ini tentunya klaim sepihak pihak perusahaan. Rapat juga tidak pernah dan hanya penunjukan secara lisan saja job diskripsinya sebagai karyawan,” ujarnya.

Kuasa Hukum Pelapor, Achmad Syaifullah, SH., sangat mengapresiasi tugas penyidik yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik dengan telah menetapkan terlapor sebagai tersangka kemudian dilakukan penahanan sesuai dengan aturan yang ada. “Yang jelas kami akan kawal kasus ini sampai ke Pengadilan sampai adanya keputusan yang inkracht,” tegasnya. (yon)