Usai Pilkada, Kedekatan Sukiman dan Syamsul Luthfi Harus Dijadikan Pelajaran

H. M. Sukiman Azmy, dan  H. M. Syamsul Luthfi, berbincang saat menghadiri Hultah NWDI ke-84 di Pancor, Lombok Timur, Minggu (28/7). (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Mantan Pejabat sementara, (Pjs) Bupati Lotim, H. Ahsanul Khalik, S.Sos, MH., mengapresiasi kedekatan rival politik antara H. M. Sukiman Azmy dam H. M. Syamsul Luthfi. Persahabatan dan komunikasi yang baik terbangun di antara keduanya pantas dijadikan contoh dan pelajaran, terutama usai pelaksanaan pesta demokrasi. Kedekatan antara Sukiman dan Luthfi yang juga merupakan mantan kepala daerah tahun 2008-2014 ini terlihat jelas waktu pelaksanaan pengajian umum Hultah NWDI ke-84 di Pancor Lombok Timur (Lotim).

 “Saya melihat itu sebagai sebuah pelajaran yang baik bagi kita semua, bahwa sesungguhnya kepentingan yang lebih besar itu adalah kepentingan atas nama daerah dan masyarakat, karena menjadi pimpinan daerah tidak akan memiliki makna apa-apa kalau kita hanya mementingkan kelompok dan pribadi saja,”Ahsanul Khalik, dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 28 Juli 2019.

Menurutnya, persoalan-persoalan yang dapat memperenggang silaturahim ada saat ke semuanya itu dikesampingkan. Sudah semestinya bergerak bersama, minimal membangun komunikasi yang menjadi teladan bagi masyarakat, sehingga masyarakat juga melebur tanpa sekat kepentingan dan dukungan politik, karena hal itu sudah berlalu saat pesta demokrasi.

Terlebih dalam proses pembangunan di suatu daerah, seperti mewujudkan Kabupaten Lombok Timur yang lebih baik dan bisa maju membutuhkan kebersamaan. Kebersamaan dapat dijadikan tonggak perbaikan birokrasi juga ke depan, sehingga semua potensi yang ada terpakai semata-mata untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

 “Pak Bupati (Sukiman,red)) sangat faham itu dan saya sebagai putra Lotim juga berharap agar beliau  juga membangun komunikasi yang sama dengan semua pihak,”harap Khalik yang juga Kepala Pelaksana BPBD NTB ini.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhamadiyah NTB, mengatakan panggung politik dalam kacamatanya masih lebih menonjolkan kepentingan. Hal itu dapat dilihat dalam banyaknya praktik politik sebagai sebuah persaingan, politik sebagai sesuatu yang membuat sejumlah elemen masyarakat terkotak-kotak dan saling menghujat. Padahal, kata dia, politik ini hanya sarana dan cara atau strategi untuk mewujudkan impian bersama yang lebih baik. Dalam konteks kenegaraan politik ini harusnya adalah kesejahteraan yang melahirkan keamanan dan kenyamanan.

Sementara dalam konteks Islam politik sebagai kekuasaan dipandang hanya sebagai sarana menyempurnakan pengabdian kepada Allah sebagaimana dalam sejarahnya Maulana Syeikh, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid mengajarkan hal itu  dan saat ini TGB juga mendorong dan mengajarkan hal yang sama.

Kabag Humas dan Protokol Setda Lotim  Drs. Iswan Rakhmadi, menjelaskan, pada momentum Hultah ini kedua tokoh dipertemukan sebagai ajang untuk mempererat silaturahmi. Perbedaan pandangan dan pilihan politik dalam pilkada merupakan suatu hal yang lumrah terjadi. (yon)