Tinggi, Permintaan Benih Bawang Putih Sangga Sembalun

Bawang putih Sangga Sembalun sedang dikeringkan oleh petani di wilayah Sembalun Lawang beberapa hari lalu.  (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Benih bawah putih varietas Sangga Sembalun cukup diminati. Banyak permintaan dari luar daerah ingin menanam bibit bawang putih yang ditanam petani Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Kepala Dinas Pertanian Lotim, H. M. Abadi, menyebut permintaan dari luar yang ingin menanam bawang putih varietas Sangga Sembalun di atas lahan seluas 3.070 hektar.  Meski demikian, ujarnya, Lotim sejauh ini bukannya tidak mampu untuk memenuhi keinginan dari pihak luar, tapi Lotim sedang menyiapkan diri dari sisi tenaga penangkar benih, sehingga mampu memproduksi benih berkualitas.

Menurutnya, penangkar butuh pembiayaan juga pastinya untuk membeli dari petani. Apalagi, pihaknya, bersama dengan penangkar sudah dilakukan penandatanganan nota kerjasama agar membuat benih sesuai standar.

Disebut jumlah penangkar di Sembalun yang sudah siap 6-7 orang. Inilah yang akan dipersiapkan untuk memenuhi permintaan dari luar daerah.

Lotim, khususnya Sembalun sangat siap sebagai daerah penyangga benih bawang putih nasional. Pihanya yakin pada tahun 2021 mendatang bisa terwujud swasembada bawang putih secara nasional. Untuk mendukung itu, Pemkab Lotim siap melakukan penanaman, karena Lotim memiliki wilayah yang potensial untuk budidaya bawang putih.

‘’Tidak saja Sembalun yang bisa dijadikan lokasi budidaya bawang putih. Sembalun yang saat ini bisa 1.600 hektar, di luarnya bisa jauh lebih banyak lagi. Beberapa wilayah potensial seperti Kecamatan Suela, Montong Gading, Wanasaba, Masbagik dan Sikur juga bisa ditanami bawang putih,’’ terangnya.

Pada panen di musim tanam awal 2019 ini, pihaknya yakin bisa memenuhi sebanyak 5 ribu ton benih. Benih inilah yang terus diperluas lokasi penanamannya, sehingga semakin besar produksi bawang putih yang dihasilkan di Gumi Selaparang. Apalagi, pada tahun 2020 ada program pemantapan budidaya bawang putih.

Mengenai soal harga yang berlaku saat musim tanam saat ini tidak ditampik, karena hukum ekonomi. Di mana saat terjadi panen banyak, barang di pasar banyak maka berlaku hukum pasar.

Bersama dengan para penangkar pembelian kepada petani ini bisa lebih layak. Harga yang berlaku saat ini dinilai pun masih cukup layak dan bisa memberikan keuntungan bagi petani. “Mudah-mudahan ke depan ini bisa lebih baik,” demikian asanya. (rus)