Tambah Jatah DBH CHT, APTI Minta Produksi Tembakau Rajang Dicatat

Tembakau rajang yang menjadi salah satu produksi andalan Lotim. Sayangnya, produksi tembakau rajang ini belum didata oleh pemerintah. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lombok Timur (Lotim) meminta data produksi tembakau rajang di Lotim dicatat. Sejauh ini belum pernah tercatat dalam data di tingkat nasional jumlah produksi tembakau rajang.

“Ke depan kita sangat berharap rajangan ini juga dimasukkan datanya,” harap Ketua APTI Lotim, Lalu Sahabudin, Jumat,  5 Juli 2019.

Belum adanya catatan produksi di tingkat nasional ini katanya menjadi penyebab jumlah DBH CHT yang diterima NTB terbilang masih kurang. Jika data tembakau rajang masuk, diyakini jumlah jatah DBH CHT di NTB, khususnya Lotim bisa lebih meningkat.

“Selama ini yang bersusah payah dalam mendatangkan DBH CHT itu adalah tembakau virginia. Berbeda dengan di Jawa disebut jelas ada kontribusinya dan jelas sehingga bagian DBH CHT juga lebih besar,’’ ujarnya.

Budidaya tembakau rajangan di Lotim ini diketahui sejauh ini tidak dikelola dengan baik. Tidak seperti virginia yang melakukan pembinaan dan ada proses kemitraan yang dibangun. Sementara rajangan tidak ada mitra yang mengelola.

Dari sisi potensi, rajangan juga dianggap sangat potensial untuk dikembangkan. Ke depan harapnya, tembakau rajangan ini sudah terbentuk kemitraannya. Hadirnya PT Sadhana Arifnusa yang mulai membisniskan tembakau rajang disambut positif Ketua APTI Lotim.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lotim, H. Masri, menjelaskan, tembakau rajang adalah tembakau lokal yang sudah turut temurun ditanam para petani di Lotim. Lotim memiliki potensi lahan tembakau rajang seluas 3.254 hektar. Tembakau rajang atau disebut tembakau tradisional ini pasarnya pun dinilai masih cukup bagus. Tidak ada yang dikeluhkan seperti halnya tembakau virginia.

Harganya tergantung mekanisme pasar. Tembakau-tembakau karya petani di Lotim bagian utara sebagian besar ini banyak dikirim ke Pulau Jawa. “Pembelinya banyak dari Masbagik yang kemudian dibawa ke luar daerah,” demikian. (rus)