Korban Gempa Montong Gading Butuh Huntara

Beginilah kondisi masyarakat korban gempa di Kecamatan Montong Gading yang bertahan di tenda pengungsian. Masyarakat berharap supaya secepatnya dibangunkan huntara. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Masyarakat yang menjadi korban gempa di wilayah Kecamatan Montong Gading saat ini masih banyak bertahan di tenda-tenda pengungsian. Pasalnya, kondisi itu dikarenakan masyarakat yang mengalami rusak berat, sedang bahkan ringan tidak berani untuk kembali menempati rumahnya. Sementara jumlah hunian sementara (huntara) masih minim.

 “Masih banyak yang berada di tenda. Jumlah huntara yang sudah terbangun kurang dari 50 unit,” terang Camat Montong Gading, Suwardi, dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 4 Juli 2019.

Untuk pembangunan rumah tahan gempa (RTG), informasinya belum ada kejelasan penanganannya terhadap korban gempa di wilayah objek wisata Otak Kokoq Joben ini. Adapun dari pendataan awal, jumlah KK yang terdampak gempa sebanyak 7.059 KK baik rusak berat, sedang dan ringan. Hanya saja verifikasi jenis kerusakan yang dilakukan oleh Dinas PUPR belum diterima oleh Kecamatan Montong Gading untuk mengetahui jumlah rumah yang mengalami rusak berat, sedang, dan ringan. “Verifikasi sudah selesai, namun hasilnya yang belum kita terima,” ujarnya.

Dari serapan informasi dari masyarakat, mantan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lotim ini menegaskan kebutuhan mendasar yang dibutuhkan oleh masyarakatnya berupa pembangunan huntara. Apabila pembangunan huntara tidak dipercepat, dikhawatirkan masyarakat dapat terkena penyakit. Terlebih wilayah korban gempa baik di Desa Pesanggrahan, Pringgajurang, Perian dan beberapa desa lainnya yang terdampak di wilayah Kecamatan Montong Gading ini suhu udaranya cukup dingin, karena berada di bawah kaki Gunung Rinjani. “Kebutuhan mendasar adalah huntara, itu sangat-sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, Lalu Rusnan, menjelaskan, untuk pembangunan huntara yang perlu diperhatikan antara kesiapan masyarakat untuk mengungsi, lokasi pengungsi yang disiapkan oleh camat dan pemerintah desa. Sehingga ketika sudah ada huntara, maka disiapkan pula dapur umum. Sedangkan ketika masyarakat tetap bertahan di kawasan rumahnya menggunakan tenda terpal, maka akan diberikan spandek dan material lainnya untuk membangun huntara dengan cara bergotong royong.  “Kalau masyarakat ingin membuatkan Huntara dekat rumahnya maka diberikan bahan, sehingga pembangunannya gotong royong untuk pembangunan,”jelasnya. (yon)