Atasi Kekeringan Secara Permanen, Pemda Lotim Disarankan Inventarisir Sumber Air

Inilah sumber mata Air Tutuq di Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru. Mata air ini satu-satunya yang diandalkan untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah selatan Lotim. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Krisis air bersih menjadi momok rutin setiap tahun bagi masyarakat terutama di wilayah selatan. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dalam mengatasinya, selain mendistribusikan air bersih secara instan. Pembangunan sumur bor di wilayah terdampak kekeringan juga dilakukan. Hanya saja, berbagai upaya itu masih kurang efektif dalam menjawab kebutuhan air bersih masyarakat.

Dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 4 Juli 2019, Wakil Ketua DPRD Lotim, H. Daeng Paelori, krisis air bersih merupakan penyakit yang rutin terjadi setiap tahun. Pemerintah daerah saat ini terus mencari alternatif-alternatif sumber mata air yang lain, terutama bagi masyarakat di wilayah selatan. Keberadaan Bendungan Pandanduri saat ini belum dapat memenuhi hajat dan kebutuhan masyarakat. Untuk mencari solusi permanen dalam mengatasi krisis air bersih ini, yang harus dilakukan dengan mencari dan memanfaatkan sumber-sumber mata air.

Menurutnya, mengatasi krisis air bersih yang dialami oleh masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan sumur bor ataupun mendistribusikan air bersih kepada masyarakat secara instan. Terlebih pemeliharaan sumur bor ini dibebankan kepada masyarakat. Yang dibutuhkan adalah sumber mata air yang kapanpun bisa diakses dan dinikmati oleh masyarakat. Maka dari itu, sudah semestinya sumber-sumber mata air itu diinventarisir untuk kemudian dialirkan ke wilayah selatan.

Sementara untuk keberadaan sumber bor biaya operasionalnya yang cukup mahal, sehingga inventarisir sumber-sumber mata air sudah semestinya dilakukan oleh pemerintah daerah. Misalnya sumber mata air Tereng Wilis ataupun sumber mata air dari Bendungan Pandanduri, DPRD Lotim siap mengawal dan membenahi sarana prasarananya. “Tapi tentu tidak hanya melakukan inventarisir lalu mengalirkan airnya ke wilayah selatan. Tetapi reboisasi terhadap kawasan sumber mata air perlu dilakukan,”ujar politisi partai Golkar ini.

Terlebih, pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat di wilayah selatan menjadi salah satu visi-misi kepala daerah terpilih, yakni bagaimana mempercepat proses kebutuhan air bersih masyarakat, terutama di wilayah selatan yang masuk tiga program unggulan yaitu air mengalir sepanjang masa. Dinilainya, janji-janji politik itu saat ini secara perlahan mulai direalisasikan. Pemerintah daerah beberapa waktu lalu melakukan pembebasan lahan sumber mata air, sehingga pada anggaran pada APBD tahun 2020 sudah dapat dilaksanakan, sehingga sumber mata air yang terdapat di wilayah utara dapat dialirkan ke wilayah selatan.

Bupati Lotim, H. M. Sukiman Azmy.,MM menyebutkan bahwa saat ini keberadaan sumur bor berfungsi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Ia juga meminta supaya kebutuhan air bersih masyarakat dapat ditanggapi dan tangani serius oleh pemerintah. “Alhamdulillah sumur bor yang sudah ada dapat berfungsi,” jelasnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, Lalu Rusnan, menyebut bahwa sumur bor yang sudah terbangun saat ini tersebar di 15 titik, di antaranya 2 buah di Pandanwangi, 3 buah di Ekas Buana, 2 buah di Kwang Rundung, 2 buah di Menceh, 2 buah di Sambelia. Selanjutnya 1 buah di Obel-Obel, 1 buah di Belanting, 1 buah di Batu Nampar Selatan dan 1 buah di Batu Nampar. “Sejumlah sumur bor itu, berasal dari APBD provinsi, UN NIBA dan BPBD Lotim,”sebutnya.

Lokasi titik pembangunan sumur bor itu berdasarkan survey geolistrik BPBD Lotim bekerjasama dengan Dinas ESDM Lotim. Disebutkan bahwa sumur bor yang berfungsi saat ini hanya 80 persen, sementara sisasanya masih dalam proses perbaikan dikarenakan ketidakmampuan daya listrik. “Hanya dua yang tidak berfungsi, dua-duanya terletak di Ekas Buana,”ungkapnya.

Lalu Rusnan mengakui bahwa solusi permanen sangat dibutuhkan dalam mengatasi krisis air bersih ini. Salah satunya berupa pembangunan embung besar atau waduk dan embung kecil. Keberadaan embung atau waduk ini dapat menampung air hujan serta paling pokok untuk mengalirkan air limpahan Bendungan Pandanduri selain mengandalkan dari sumber mata air langsung. “Untuk saat ini di wilayah selatan hanya mengandalkan mata air Tutuq,” ungkapnya. (yon)