Belum Kembangkan Pantai Pink, Izin Investor Asal Swedia Terancam Dicabut

Pantai Pink (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengaku telah memberikan peringatan atau teguran sebanyak dua kali kepada investor asal Swedia, PT. Eco Solutions Lombok (ESL). Apabila sampai peringatan ketiga, investor tersebut belum juga merealisasikan komitmennya  mengembangkan Pantai Pink Kawasan Tanjung Ringgit Kecamatan Jerowaru Lombok Timur (Lotim), maka izinnya terancam akan dicabut.

Sekretaris Dinas LHK NTB, Syamsuddin, S. Hut, M. Si mengatakan pihaknya sudah memanggil PT. ESL agar segera merealisasikan investasinya sesuai komitmen awal. Ia menjelaskan sesuai klausul dalam perizinan PT. ESL, Dinas LHK akan memberikan teguran pertama, kedua sampai ketiga kepada investor yang tidak melakukan aktivitas.

“Kalau sampai teguran ketiga tidak diindahkan, mungkin akan kita rekomendasikan dicabut,” kata Syamsuddin dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 24 Juni 2019 siang.

Dijelaskan, Pemprov melalui Dinas LHK  hanya punya kewenangan memberikan rekomendasi pencabutan izin atas pemanfaatan kawasan hutan dengan luas 5 hektare ke atas ke Kementerian LHK. Karena izin pemanfaatan kawasan hutan seluas 5 hektare ke atas berada di Kementerian LHK.

Pemprov berkewajiban melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap izin-izin pemanfaatan hutan yang ada di NTB. Pengawasan dan evaluasi yang dilakukan untuk mengawal investor yang telah memperoleh izin agar memanfaatkan sesuai peruntukan dan komitmen awal.

Terhadap investor yang berencana mengembangkan Pantai Pink ini, Syamsuddin menyebutkan pihaknya sudah mengeluarkan peringatan atau teguran kedua. “Sudah diperingatkan kedua, mau ketiga ini. Makanya kita panggil dulu, jawabannya seperti apa. Dia kita undang, apa penjelasannya secara komprehensif, mungkin ada kendala-kendala,” jelasnya.

Apabila sampai teguran ketiga, investor tersebut tak kunjung merealisasikan komitmennya, maka Dinas LHK akan merekomendasikan pencabutan izin PT. ESL ke Kementerian LHK. “Dia harus tanggungjawab sesuai komitmen dia,” tandasnya.

ESL merupakan investor asal Swedia yang berencana membangun eco tourism terbesar di Asia yang terletak di kawasan Pantai Pink Sekaroh Kecamatan Jerowaru Lombok Timur. Saat kick off ceremony Tanjung Ringgit di Kawasan Pantai Pink, Rabu, 29 Januari 2014 lalu, investor ini berencana membangun 20-30 vila, restoran, diveshop, pasar tani dan nelayan di kawasan tersebut.

Hadir dalam acara kick off ceremony tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang saat itu dijabat Dr. Mari Elka Pangestu, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Mrs. Ewa Polano, Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH, M. Si. Namun beberapa tahun setelah acara seremonial tersebut, belum ada progres pembangunan di sana, akibat sengketa perizinan dan persoalan lahan, yakni sertifikat ilegal.

Luas kawasan hutan Sekaroh yang diberikan pengelolaannya untuk kepentingan wisata alam seluas 330 hektar lebih, termasuk Pantai Pink. Dari izin yang diperoleh, PT. ESL hanya diperbolehkan membangun sekitar 10 persen dari luas kawasan. Sementara 90 persen lainnya dimaksudkan untuk perlindungan hutan. (nas)