Pramuwisata Sambut Baik Pendakian Rinjani Dibuka Kembali

Ucok Palala (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Pendakian ke Gunung Rinjani kembali dibuka. Hal ini disambut baik para pelaku wisata. Termasuk Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Para guidedari Lotim ini sudah lama menanti dibukanya Rinjani sebagai salah satu destinasi wisata andalan.

Ketua HPI Lotim, Ucok Palala kepada Suara NTB mengatakan, Lotim akan merugi kalau Rinjani terus ditutup. Utamanya dari jalur Sembalun. Pasalnya, daerah lain seperti Kabupaten Lombok Utara (KLU) ini diketahui lewat Senaru dan Lombok Tengah lewat Aik Berik.

Setelah dibukanya pendakian, HPI siap promosikan. Prinsip sebenarnya, katanya HPI siap mengukuti apa yang menjadi ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Dalam hal ini Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang membuat sejumlah aturan mengenai pendakian.

Di antara aturannya, Rinjani tutup pada hari Jumat jalur lewat Sembalun. Akan ada pemisahan antara pendaki perempuan dan laki-laki. “Kami ikut saja mana baiknya saja,” ungkapnya menegaskan.

Ketua HPI Lotim ini kemudian meluruskan kembali, pandangan wisata pendakian Rinjani ini sebagai penyebab gempa. Wisata, tegasnya bukanlah penyebab gempa. Jika hanya wisata Rinjani, kenapa terjadi gempa juga di Aceh, Jawa Barat, Banten dan tempat-tempat lainnya.

Keinginan melarang pendakian sebutnya hanya sebagian dari sekelompok masyarakat. Namun harus diingat, sambungnya banyak warga yang bisa beraktivitas mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarganya dari aktivitas treking rinjani.

Dari sisi pendapatan negara bukan pajak dari retribusi pendakian khusus dari Sembalun sejauh ini cukup besar. Data April sampai Desember pembukaan jalur Sembalun setiap tahunnya saat retribusi Rp150 ribu, dulu sempat tembus Rp4 miliar.

Para pelaku wisata pun ramai membuat paket wisata. Penjualan paket ini pun cukup bersaing. Paket lewat Sembalun oleh pelaku wisata dijual rata-rata Rp1,2 juta untuk paket murah per hari. Ada juga yang jual Rp3 juta per hari. Yakni paket dua malam tiga hari.

Adapun tren kunjungan wisata ke Lombok saat ini sangat menggemari kehidupan lokal.  Wisatawan mancanegara tidak terlalu penting ada  hotel. “Orang barat sekarang lebih senang menginap di rumah-rumah penduduk, terpenting itu adalah kamar mandinya bersih,” ucapnya. (rus)