Korban Gempa di Lotim Masih Banyak Tinggal di Pengungsian

Salah seorang masyarakat di wilayah Kecamatan Montong Gading berdiri di samping tenda pengungsian tempat ia berteduh selama ini. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Bencana gempa bumi yang meluluhlantahkan wilayah Kecamatan Montong Gading beberapa waktu lalu masih menyisakan luka dan harapan bagi masyarakat setempat. Pasalnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang tinggal di tenda-tenda pengungsian, terutama sekali bagi masyarakat yang rumahnya ambruk. Sementara hunian sementara (huntara) yang sudah terbangun di wilayah ini baru berjumlah puluhan.

Dikonfirmasi Suara NTB, Sabtu,  15 Juni 2019, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lotim, Purnama Hadi, tidak menampik masih adanya masyarakat yang tinggal di bawah tenda pengungsian. Terutama sekali korban gempa di wilayah Kecamatan Montong Gading. Sementara huntara yang dibangun baru berjumlah puluhan unit dengan satu huntara terdapat 5 KK.

 “Ada juga yang sifat bantuannya berupa material, baik spandek, kayu, triplek dan lainnya sehingga masyarakat membangun sendiri dari material yang diberikan itu. Di samping sudah bangun huntara, sudah dibantu terpal juga,”terangnya.

Rusniah, warga korban gempa di wilayah Kecamatan Montong Gading Kabupaten Lotim yang menjadi titik terparah kerusakan akibat gempa, Minggu,  25 Maret  lalu mengaku mulai merasakan ketidaknyamananan

berada di tenda. Selain setiap hari diterpa panas terik dan dinginnya malam, hujan yang hampir setiap malam turun cukup menyiksa mereka. Untuk itu, ia berharap agar dibuatkan huntara sebagai tempat berteduh yang lebih nyaman.

Kades Pesanggrahan Kecamatan Montong Gading, H. Badrun, menyebutkan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini berupa huntara sebagai tempat berteduh masyarakat. Terlebih saat ini kondisi cuaca semakin tidak menentu. Saat ini masyarakat sudah mulai mendirikan huntara secara swadaya. “Kita berharap supaya masyarakat segera dibangunkan huntara,”harapnya.

Namun dalam pembangunan huntara ini harus berbentuk material atau fisik bangunan. Apabila diberikan dalam bentuk uang, dikhawatirkan diambil langsung oleh masyarakat, namun tidak membangun huntara sebagaimana hajatan dan penggunaan dari dana tersebut. Disebutkannya, tidak semua masyarakat di Desa Pesanggrahan yang mengalami dampak mengalami hal yang sama meskipun mendirikan tenda darurat. Akan tetapi yang membutuhkan huntara yakni masyarakat rumah-rumah benar-benar hancur dan tidak bisa ditempati.  “Saat ini masyarakat kita mulai mendirikan huntara secara swadaya. Kita berharap supaya ada bantuan dari pemerintah supaya masyarakat lebih nyaman,”harapnya. (yon)