Pertanian Mulai Normal, Sektor Pariwisata Lotim Masih Lesu Pascagempa

Masyarakat Sembalun yang tetap bekerja di lahan pertaniannya setelah gempa. Namun, pariwisata di Sembalun dan Lotim umumnya masih belum pulih. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Bencana gempa yang terjadi pada bulan Juli dan Agustus tahun 2018 lalu tidak hanya berdampak pada jatuhnya korban jiwa serta rusaknya bangunan rumah warga. Namun musibah itu juga berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Seperti di wilayah Kecamatan Sembalun yang menjadi salah satu titik terparah bencana gempa. Saat ini, sektor pertanian berangsur normal. Sementara pada sektor pariwisata masih lesu.

Menurut Camat Sembalun, M. Zaidar Rohman, untuk perekonomian dari sektor pertanian sudah mulai normal beberapa bulan terakhir ini. Hanya saja pascagempa tahun 2018 lalu masih berpengaruh pada sektor pariwisata. Masyarakat dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara masih sepi untuk berkunjung ke objek wisata kelas dunia yang terdapat di bawah kaki Gunung Rinjani ini. “Untuk pendidikan juga sudah normal,” terangnya kepada Suara NTB, Senin,  8 April 2019.

Terkait kondisi yang demikian, lanjut dia, dari pemerintah kecamatan tetap melakukan pembinaan dengan berbagai bentuk. Termasuk bersinergi dengan semua pihak untuk membangkitkan semangat masyarakat di Sembalun. Dengan semangat kebersamaan dan bersinergi dengan berbagai pihak diyakininya dapat memulihkan kembali wilayah Sembalun.

Terpisah, Kepala Bidang Pemasaran pada Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim, Muhir, S.Pd, tidak menampik jika dampak bencana gempa yang terjadi pada tahun 2018 dan 2019 dirasakan oleh seluruh masyarakat di NTB. Bahkan dapat dikatakan musim “paceklik” untuk dunia pariwisata. Itupun tidak bisa dipaksakan untuk menggaet kunjungan wisatawan karena masuk dalam image wisatawan itu sendiri, terkait kemungkinan-kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Kendati demikian, bukan berarti pemerintah tinggal diam dalam menyikapi hal tersebut. Dari Dinas Pariwisata Lotim, kata Muhir, akan terus mencari jalan-jalan yang lain untuk mempromosikan pariwisata Lotim dalam upaya menggaet kunjungan wisatawan. Termasuk salah satunya dengan membentuk relawan pariwisata untuk lebih mempromosikan pariwisata Lotim dengan berbagai cara, baik media sosial, komunitas, dan lainnya dengan terlebih dahulu dilakukan bimtek untuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman di bidang informatika, penggunaan medsos, serta peningkatan terkait UU ITE.

Dispar sendiri sudah menyusun sebuah rangkaian acara Pekan Pesona Gumi Selaparang yang akan merangkum semua event-event yang dilakukan oleh masyarakat. Tentukan bersinergi dengan instansi terkait seperti TNGR, Dispar NTB hingga Kementerian Pariwisata. Salah satunya mengambalikan Sembalun dengan kultur yang ada. (yon)