Jagung Lotim Diekspor ke Korea Selatan

Wabup Lotim,  H. Rumaksi Sjamsuddin (Suara NTB/Humas dan Protokol Lotim)

Selong (Suara NTB) – Komoditi jagung hasil pertanian di Kabupaten Lombok Tmur (Lotim) diekspor ke Korea Selatan. Ekspor perdana dilakukan, Kamis,  28 Maret 2019. Jagung yang diekspor ini adalah jenis yang rendah kandungan aflatoksin (penyebab kanker).

Launching perdana dilakukan Koperasi Dinamika Nusa Agribisnis untuk PT. Greenfields di Pringgabaya ini dihadiri Wakil Bupati Lotim H. Rumaksi Sjamsuddin.  Dalam sambutannya, Wabup mengatakan jagung merupakan komuditas strategis utama terpenting setelah padi dan salah satu komuditas tanaman palawija utama di Indonesia.

Rumaksi yang juga Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) NTB Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meminta para petani jagung menjadi anggota HKTI. Ke depan, bila para petani sudah menjadi anggota HKTI, kartu anggota tersebut akan menjadi acuan untuk memberikan kredit oleh pihak perbankan dan lainnya.

Diterangkan, berdasarkan data Kementerian Pertanian, dari total penggunaan jagung 15,55 juta ton, sekitar 66,1 persen atau 10,3 juta ton untuk industri pakan dan peternak mandiri. Jagung merupakan pakan ternak.

Aflatoksin pada jagung disebut merupakan salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen jagung. Selain kadar air, aflatoksin cukup signifikan dalam meningkatkan posisi tawar penjualan jagung. Kondisi jagung yang sudah banyak terpapar aflatoksin menjadi kurang diterima oleh pabrik pakan. Saat ini, sambungnya pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Tentu saja kualitas yang terus harus mengalami peningkatan, hal ini untuk menjaga kepercayaan dunia industri terhadap jagung asal Lotim,” urainya.

Produksi jagung nasional dalam lima tahun terakhir diketahui megalami peningkatan sebesar 12,49 persen per tahun. Pada periode 2018 produksi jagung mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06 persen dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen.

Khusus Lotim, berdasarkan data capaian RPJMD 2013-2018, produksi jagung tahun 2017 mencapai 185.432 ton. Pringgabaya menjadi kecamatan dengan luas lahan jagung terbesar. Angka tersebut terus meningkat dibanding tahun sebelumnya, seiring adanya upaya khusus ((upsus)) padi, jagung, dan kedelai  – pajale) yang telah berlangsung sejak 2016 lalu.

Meningkatnya produksi pajale saat ini, sudah dapat dinikmati petani dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2018, naik sebesar 0,04 persen menjadi 103,16 persen dibanding bulan sebelumnya. Ia berharap, apa yang dilakukan saat ini memotivasi petani untuk menanam jagung, mengoptimalkan potensi lahan yang dimiliki.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Ir. Gatut Sumbogodjati, MM dalam sambutannya mengatakan, jagung merupakan komoditas strategis utama terpenting setelah padi.Jagung salah satu komoditas tanaman palawija utama di Indonesia yang kegunaannya relatif luas. Terutama, untuk konsumsi manusia dan kebutuhan bahan pakan ternak. Agrobisnis jagung memiliki berbagai keuntungan, yakni memberikan banyak manfaat, memiliki keunggulan sebagai pakan untuk unggas, dan usaha taninya mudah. Namun, jagung memiliki beberapa permasalahan seperti luas lahan yang terbatas, dan teknologi usaha tani rendah. Jagung memiliki peluang perdagangan antardaerah dan negara dan kebutuhan jagung nasional cukup tinggi dan terus tumbuh. (rus)