30 Nyawa Melayang di Jalan Selama Tiga Bulan di Lotim

Ilustrasi (Kecelakaan)

Selong (Suara NTB) – Kasus kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) cukup massif terjadi. Pasalnya, pada awal tahun 2019 yakni bulan Januari, Februari, dan awal bulan Maret ini, tercatat sebanyak 30 nyawa melayang di jalan raya dengan kondisi yang cukup mengenaskan.

Kasat Lantas Polres Lotim, AKP. Riyan Faisal, SIK, mengatakan, kecelakaan yang terjadi dikarenakan human error. Semua kecelakaan dikarenakan kelalaian dan ketidak patuhan dalam berlalu lintas, seperti mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi dan tidak memperhatikan situasi sekitar, sehingga terjadi kecelakaan. Sementara untuk rambu-rambu atau sarana pendukung tidak menjadi momok.

Untuk kecelakaan ini pun, kata Riyan, 90 persen terjadi akibat kelalaian pengendara terutama di pedesaan.   “Kecelakaan di jalan-jalan sejauh ini 90 persen diakibatkan kelalaian manusia di dalam mengemudikan kendaraannya,” terangnya, Selasa, 12 Maret 2019.

Atas kondisi yang demikian, maka tak heran ketika kasus laka lantas masih tinggi di Kabupaten Lotim. Disebutkan Riyan, selama tiga bulan terakhir ini, pada bulan Januari 2019, jumlah laka lantas sebanyak 46 kasus dengan meninggal dunia sebanyak 16 dan luka ringan 45 orang, kerugiaan materil sebanyak Rp63.400.000. Pada bulan Februari, jumlah laka lantas sebanyak 36 kasus, meninggal dunia 12 orang dan luka ringan sebanyak 47 orang, dan kerugian materil Rp62.150.000. Sedangkan pada bulan Maret, jumlah lakala lantas sebanyak 10 kasus, meninggal dunia 2 orang, luka berat 1 orang dan luka ringan 11 orang dengan kerugian materil Rp10.950.000.

“Jalan rata merupakan mesin pembunuh yang berdasarkan WHO, bahwa kecelakaan penyumbang kematian terbesar nomor lima di dunia. Inilah yang terus kita minimalisir dengan berbagai cara dan strategi,” terangnya.

Bahkan, kecelakaan yang terjadi didominasi oleh kaum milenial usia produktif antara 15-36 tahun. Dikatakan Riyan, lebar jalan memang mempengaruhi dalam berkendara. Namun apabila para pengendara taat dan memahami aturan dalam berkendara, seperti tidak memacu kendaraannya terlalu kencang, sehingga tabrakan dapat dihindari. Contoh nyata, kata dia, yang terjadi di Desa Kesik Kecamatan Masbagik, Selasa kemarin, seorang masyarakat yang dibonceng tanpa menggunakan helm langsung meninggal dunia setelah terjatuh dan kepalanya terbentur. (yon)