Penangkapan Hiu di Tanjung Luar Disorot Penyayang Binatang Internasional

Aktivitas pemisahan kulit, sirip dan organ lain dari hiu yang didapatkan nelayan Tanjung Luar. Hiu yang sudah dibersihkan kemudian dikirim ke pasar  di Indonesia dan dilarang di ekspor. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Penangkapan hiu oleh nelayan di Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) disorot. Kali ini, sorotan datang dari wisatawan mancanegara dan penyayang binatang internasional.

Menanggapi sorotan tersebut, Munawir,  seorang nelayan di Tanjung Luar mengungkapkan  bahwa hiu yang ditangkap itu merupakan jenis yang berbeda. Maksudnya, jenis hiu yang ditangkap itu jenis yang diizinkan pemerintah untuk ditangkap dan diperjualbelikan.

Munawir menjelaskan, berdasarkan undang-undang,  jenis hiu yang tidak boleh ditangkap itu adalah jenis hiu paus dan hiu gergaji. ‘’Hiu yang kami tangkap itu sudah mendapatkan izin dari pemerintah. Ada jenis tertentu hiu yang tidak boleh ditangkap,’’ katanya dikonfirmasi, Senin, (4/2).

Munawir sendiri sangat menyayangkan adanya postingan wisatawan asing di media sosial facebook terkait penangkapan hiu oleh nelayan Tanjung Luar. Seharusnya, kata dia, wisatawan yang bersangkutan terlebih dahulu mempertanyakan ke nelayan atau pekerja di TPI Tanjung Luar.

Logikanya, terang Munawir, apabila penangkapan hiu ini dilarang, maka sudah dari awal penangkapan dan jual beli hiu ini dihentikan. Namun faktanya, pemerintah baik provinsi maupun kabupaten mengizinkan. Bahkan katanya mendukung dengam catatan tidak menangkap hiu paus dan hiu gergaji karena jenis inilah yang dilindungi.

‘’Kita maklumi pendapat wisatawan itu. Mungkin di negara mereka semua jenis hiu dilindungi. Tapi kita di sini kan tidak semua jenis hiu dilindungi,’’ katanya.

Selama ini kata Munawir, jika saat sedang menangkap ikan kemudian ikut terjaring hiu yang dilindungi, nelayan langsung melepasnya. ‘’Baik dalam keadaan masih hidup ataupun mati, tetap kami lepas. Kalaupun kami bawa pulang dalam keadaan mati, itu bisa jadi masalah,’’ terangnya.

Munawir menuturkan, secara pribadi  ia tidak ikut menangkap hiu. Pasalnya, aktivitas penangkapan hiu membutuhkan biaya yang cukup besar, antara Rp 10 juta- Rp 15 juta lebih. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh para nelayan tersebut karena sekali berlayar memakan waktu hingga 20 hari. Bagi yang beruntung, ia bisa pulang dengan membawa hiu hingga 10 ekor. Ada pula yang tidak beruntung alias kosong (tanpa hasil).

‘’Saya hanya mencari ikan-ikan yang lain (di luar hiu). Saya juga sebagai pengepul hasil tangkapan nelayan untuk kemudian saya jual kembali,’’ jelasnya.

Nelayan lainnya, Daeng juga menyampaikan bahwa hiu-hiu yang diperbolehkan ditangkap dan diperjualbelikan juga memiliki aturan yang jelas. Setelah dimasukkan ke TPI Tanjung Luar, organ-organ dari hiu tersebut tidak diizinkan untuk dikirim ke luar negeri. Melainkan hanya ke pasar Indonesia atau  hanya antarprovinsi.

‘’Seperti jenis hiu martil. Memang kalau untuk hiu paus itu harganya cukup mahal. Ekornya atau siripnya saja harganya jutaan,’’jelasnya. (yon)