Kasus Sengketa Waris di Lotim Terbanyak Se Indonesia

Ketua Pengadilan Agama Selong,  H. Gunawan  (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Pengadilan Agama  (PA) Selong Lombok Timur (Lotim) menangani kasus sengketa waris yang cukup banyak. Bahkan disebut terbanyak se Indonesia. Dalam setahun dicatat 70 kasus gugatan waris. Daerah lain, sebutnya paling banyak 5 sampai dengan 10 kasus dalam setahun di tingkat kabupaten.

Menurut Ketua PA Selong, H. Gunawan, perkara waris merupakan perkara terberat yang ditangani. Pihak yang dilibatkan cukup banyak dan sengketanya tidak seperti sengketa perceraian.  Perkara waris ini memang cukup menguras energi. Lima sampai enam perkara setiap bulannya. Jika dibagi dengan semua hakim, semua punya beban.

Waris menjadi paling dominan dimungkinkan karena persoalan hukum adat masyarakat Lotim yang bersifat patrilineal. Sebelum lahirnya konfilasi hukum islam (KHI), ada Inpres 1 tahun 1991 belum memberikan ruang bagi cucu untuk menggugat waris. Dalam kewarisan sumbernya menggunakan sistem ahli sunnah wal jamaah. Lebih dominasi ke bapak.

Hukum waris menyebut ahli waris kategori cucu atau disebut ibnul ibni (anak laki-laki dari anak laki-laki) atau ibnul binti (anak laki-lakinya anak perempuan), atau bintul binti (anak perempuannya anak perempuan) itu dulu disebut zawil arham. Zawil Arham ini tidak disebutkan berapa bagiannya.

Selain itu ada namanya zawil furud yang memang sudah ditentukan besaran bagiannya dalam dalil nash.   Ada juga ashobah atau penerima sisa setelah pembagian. Posisi zawil arham ini ketika masih ada barang yang belum dibagi baru bisa dapat.

Ijmak ulama Indonesia sesuai Perintah Presiden tahun 1991 lalu menyimpulkan lahirnya KHI. Muncul ada harta bersama atau harta gono gini. Dulunya ketika suami meninggal, maka yang yang dibagi adalah seperdelapan langsung untuk istri ketika ada anak. Semisal warisan suami Rp 100 juta, maka jatah si Istri seperdelapan. Jumlahnya sangat sedikit. Sedangkan pascalahirnya KHI, harta besama ini harus dibagi dua dulu dengan istri. Rp 50 juta untuk istri dan Rp 50 juta untuk jadi warisan.

Istri meskipun tidak bekerja, namun tetap harus dihargai karena telah menjaga anak-anaknya. Ada rumah suami yang atas nama tidaklah masalah dan tetap harus dibagi dua.

Berikutnya ada hibah kepada orang yang tidak memiliki hubungan nasab. PA bisa menetapkan besaran hibah yang tidak boleh melebihi sepertiga harta. Ada istilah ahli waris pengganti, terbuka peluang dari cucu laki-laki bisa naik menggantikan ayahnya yang meninggal lebih dulu.

Perubahan regulasi dan mulai banyaknya warga yang faham dinilai menjadi salah satu faktor lahirnya orang yang menggugat. Dari kasus yang ditangani memang sebagian besar perempuan yang mengajukan gugatan, karena ingin mendapatkan haknya. “Inilah yang terberat kita rasakan disini, sudah banyak sekali keturunan dan silsilah keluarga. Inilah yang berat dalam pembuktian,” ungkapnya. Sekarang, batas orang yang boleh menggugat adalah cucu. Cicit tidak boleh.

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat, Ketua PA Selong yang baru ini berharap bisa dilibatkan dalam sosialisasi hukum. Minta keterlibatan dari kepala desa juga bisa ambil peranan untuk menggelar sosialisasi. (rus)