Huntap Lamban, Warga Korban Gempa di Lotim Bangun Rumah Secara Swadaya

Huntap masyarakat yang sudah terbangun di Lotim. Sebagian besar warga memilih membangun rumahnya, karena harus menunggu terlalu lama dari pemerintah. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Masyarakat yang menjadi korban gempa bumi sekitar tujuh bulan lalu saat ini mulai bangkit. Terutama di dalam membenahi pemukiman dan tempat tinggal mereka yang sebelumnya rusak berat. Pasalnya, banyak masyarakat korban gempa yang membangun kembali rumahnya secara swadaya dikarenakan proses pembangunan hunian tetap (huntap) dari pemerintah terkesan lamban.

Menurut Camat Sembalun, Usman, pembangunan huntap kriteria tahan gempa berupa Risha, Rika, sudah berjalan. Namun karena proses yang memang agak lamban, sejumlah masyarakat terutama yang memiliki biaya memilih membangun rumahnya secara swadaya, baik yang rusak berat dan ringan. Pada dasarnya, proses pembangunan huntap ini terus bergerak setiap hari. Namun memang dari aplikator yang prosesnya agak lamban yang dimungkinkan, karena keterbatasan dari segi tenaga dan armadanya.

Meski masyarakat sudah membangun rumah menggunakan uang pribadinya. Hal tersebut tidak menggugurkannya untuk mendapatkan dana bantuan dari pemerintah sebagaimana yang sudah ditetapkan, yakni Rp50 juta untuk rusak berat, Rp25 juta rusak sedang, dan Rp10 juta untuk rusak ringan. Berdasarkan SK bupati, nama masyarakat yang sudah masuk sesuai dengan kriteria kerusakan harus ditetap dipertimbangkan. Terlebih rumah yang akan dibangun dengan dana yang digelontorkan itu harus sesuai spesifikasi tahan gempa.

“Kalau sudah ada yang membangun. Ini akan dievaluasi oleh pemerintah, jangan sampai masyarakat dirugikan. Artinya ada tim tekhnis untuk menilai rumah itu apakah tahan gempa, kualitas terjamin,” jelasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Lotim, Purnama Hadi, menyebut sebanyak 1.394 unit huntap masyarakat dipastikan tuntas terbangun awal bulan tahun ini. Dari jumlah itu, untuk huntap jenis Risha sebanyak 717 unit yang sudah terbangun sekitar 80 persen lebih. Untuk Rika sebanyak 477 unit, Riko sekitar 200 unit dan Rumah Cetak Indonesia (RCI) 4 unit yang pembangunan juga dalam waktu dekat ini rampung.

Selain pembangunan rumah korban gempa dibangun oleh aplikator, beberapa rumah warga juga dibangun secara individual atau pokmas yang didampingi oleh 40 tim teknis. Dan itupun diperbolehkan sepanjang didampingi oleh tim teknis dari PU dan fasilitator.

Rumah yang dibangun ini rata-rata penyelesaiannya pada tahap kedua untuk transfer dana masing-masing kelompok untuk tahap kedua ini, sehingga rumah-rumah warga yang sudah terbangun tuntas pada bulan ini pada tahap dua.

Menurutnya, rumah warga yang terdampak gempa beberapa bulan lalu sebanyak 26.215 KK terdiri dari rusak berat sebanyak 9.636 unit, yang sudah terbangun sekitar 1.200 unit. Yang menjadi kendala dalam pembangunan rumah huntap warga ini yakni masih terbatasnya aplikator yang terbatas dari semua jenis yang ada. Sementara untuk anggaran Rp. 26.217 miliar, rusak sedang Rp3.303 miliar. (yon)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.