Pekerja Anak di Lotim Masih Marak

Sekda Lotim, H. Rohman Farly (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), H. Rohman Farly, menyebut bahwa masih banyak anak-anak dipekerjakan. Kondisi itu disebabkan karena hingga saat ini, Kabupaten Lotim pada khususnya masih terpengaruh tradisi banyak anak banyak rezeki. Demikian disampaikan Sekda, Kamis, 27 Desember 2018.

Dari kepercayaan itu, sehingga anak yang masih kecil sudah dijadikan tenaga kerja yang harus bisa menghasilkan uang bagi keluarganya. Sementara pemerintah memandang bahwa hal tersebut kurang bagus karena masa anak-anak untuk menumbuhkan kreativitasnya. Artinya momentum untuk berkreativitas, terampil dan bukan semacam eksploitasi. “Masih banyak pekerja-pekerja anak yang terjadi di Lotim terutama di tingkat kecamatan,” sebut Sekda.

Disinggung ketika anak bekerja untuk membantu orang tuanya meskipun tidak menerima upah. Hal tersebut menurut Sekda termasuk dalam kategori memperkerjakan anak, kecuali anak diminta mengerjakan pekerjaan rumah di rumah dengan tujuan melatih kedisiplinan mereka. “Jika sudah di luar rumah. Anak-anak ikut bekerja sama orang tuanya. Itu sudah termasuk memperkerjakan anak,” ujarnya.

Langkah itupun, tambahnya, merupakan tindakan merampas hak-hak anak. Pasalnya, kewajiban anak yakni bermain, berkreativitas, belajar di bangku pendidikan formal dan bukan diarahkan untuk bekerja. Meskipun bukan anak itu yang menerima langsung upah dari apa yang dikerjakannya. “Sama artinya ketika anak itu bekerja kemudian hasil keringat apa yang dikerjakan oleh anak itu dinikmati orang tuanya. Itu juga salah dan termasuk eksploitasi anak,” kata Sekda.

Hal senada disampaikan Kadis Dikbud Lotim, Lalu Suandi, S.Sos., bahwa masih terdapat anak-anak yang bekerja. Menurutnya, kondisi itu disebabkan untuk mengisi waktu luang anak-anak tidak semua terjangkau oleh pendidikan eksternal. Namun beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Lotim saat ini sudah mengembangkan beberapa program ekstrakurikuler di luar jam sekolah untuk mengisi kekosongan waktu peserta didik. (yon)