Begini Pengakuan Hj. Sitti Rauhun Setelah TGB Memimpin NTB

Tuan Guru Bajang (TGB) bersama ibunda Hj. Sitti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid dan keluarga usai menyelesaikan masa baktinya sebagai Gubernur NTB, Senin, 17 September 2018. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Semakin menjulang tinggi suatu pohon, semakin keras angin yang menerjangnya. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk mengibaratkan sosok Tuan Guru Bajang (TGB) sapaan akrab Dr. TGH. M. Zainul Majdi, setelah 10 tahun memimpin NTB. Menjadi seorang gubernur, tentu cobaan dan tantangan yang dihadapi. Berikut penuturan Hj. Sitti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid – ibunda TGB selama buah hatinya memimpin NTB.

Terjun ke dunia politik akan banyak fitnah, cobaan dan ujian yang dihadapi. Inilah yang disadari Hj. Sitti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid ketika anaknya TGB dan yang lainnya terjun ke dunia politik. Apa yang dikhawatirkan ini, kini semua itu sudah terbukti, ketika TGB dipercaya memimpin NTB selama 10 tahun.

Ia mengaku terkadang menangis melihat bermacam-macam ujian yang menghampiri TGB. Namun mengingat pesan dan perkataan dari ayahandanya, Maulana Syeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, yang selalu mengatakan bahwa politik adalah pelengkap perjuangan. Itulah yang selalu menjadi obatnya. Hal ini membuat dirinya sadar dan berhenti menangis, termasuk berhenti memikirkan berita yang tidak baik selama TGB memimpin NTB.

Diakuinya, TGB merupakan sosok yang sangat berbakti terhadap dirinya selaku seorang ibu. TGB setiap saat meminta doa agar segala urusan, terutama di dalam berkhidmat untuk NTB selalu dimudahkan dan diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Namun selaku seorang ibu, Sitti Rauhun mengungkapkan bahwa tanpa dimintapun dirinya tetap mendoakan yang terbaik buat semua buah hatinya, tak terkecuali TGB yang memikul tanggung jawab besar menjadi gubernur NTB selama 10 tahun (2008-2018).

Ia menuturkan, TGB merupakan harapan kakeknya, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang merupakan pahlawan nasional dari NTB. Saat TGB baru lahir, nama M. Zainul Madji diberikan langsung oleh Almagfurullahu Maulana Syeikh, yang diambil dari nama kakeknya dan ayah dari kakeknya. Harapannya TGB berguna bagi agama, nusa dan bangsa serta dapat meneruskan perjuangan melalui organisasi NW yang didirikannya. “Zainul merupakan namaku (Zainuddin Abdul Madjid) dan Majdi merupakan nama orang tuaku. Itulah makna di balik nama TGB,” kenang Sitti Rauhun mengutip perkataan Almagfurullahu Maulana Syeikh terhadap dirinya kala itu.

Selaku seorang ibu, Sitti Rauhun juga dipesan oleh Maulana Syeikh untuk sering mendoakan anak-anaknya, karena doa seorang ibu sangat mujarrab, diridhoi dan diijabah oleh Allah SWT. Ia percaya bahwa keberkahan dan kesuksesan seorang anak dalam berjuang dan melakukan apapun itu terdapat pada keridhoan orang tua. Keridhoan Allah terletak pada keridhoan orang tua.

“Jadi nasehat-nasehat ninik (kakek) nya itu Ummi ingat. Sehingga perkataan-perkataan tidak baik, macam-macam fitnah orang terhadap TGB. Yang menjadi obat hati dan pikiran ummi bahwa politik adalah pelengkap perjuangan sebagaimana disampaikan oleh kakeknya TGB,” tuturnya. (yon)