Petani Lotim Berhasil Tanam Bawang Merah Kualitas Ekspor

0
142

Selong (Suara NTB) – Petani bawang merah di Lombok Timur (Lotim) telah berhasil menanam bawang merah kualitas ekspor. Bawang merah dengan nama varietas Maserati F1 jenis biji ini bisa tumbuh dengan baik. Produktivitas bawang merah hasil budidaya petani Lotim ini pun cukup ideal dan bisa mencapai 28 ton per hektar.

Hal ini disampaikan Product Development Manager, PT. Agrosid Manunggal Sentosa Riky Sianipar saat panen bawang varietas Maserati F1 itu di Desa Tirtanadi Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lotim, Minggu lalu. Dia menjelaskan, bawang merah varietas Maserati merupakan varietas terbaru yang dikembangkan di Indonesia.

Warna umbi merah mengkilat, rasa yang cukup pedas dan ukuran yang diminati pasar menjadi salah satu yang menarik petani untuk menanam Maserati. True Shallot Seed (TSS) Maserati dapat ditanam dengan cara pindah tanam maupun tanam langsung. Tanah Lombok yang cukup remah menjadi salah satu alasan untuk TSS Maserati dapat tumbuh dengan baik.

Dia berharap semakin membaiknya produksi bawang merah ini akan dapat membantu pemerintah untuk ekspor bawang merah, sehingga menambah pendapatan petani dan devisa negara.

Petani bawang merah, Usman sendiri mengaku komoditi bawang merah memang menjadi andalah sejumlah petani di Lombok Timur. Utamanya di Desa Tirtanadi Kecamatan Labuhan Haji.

Hanya saja, katanya, persoalan harga masih menjadi persoalan. Saat ini harga jual basah bawang merah Rp 700 ribu per kuintal. Pilihan menanam bawang merah varietas biji seperti Maserati bisa menjadi solusi di tengah besarnya biaya produksi menanam bawang.

Rata-rata biaya produksi ini tembus Rp 80 juta per hektar. Besaran nilai produksi ini bisa jauh lebih besar jika yang ditanam adalah bawang bibit masih berupa siung. Pasalnya, harga bibit unggul saat ini masih cukup mahal. Beda dengan menanam biji diyakinkan jauh lebih berhemat.

Harga jual Rp 700 ribu saat ini memang masih bisa mendatangkan keuntungan bagi petani. Hanya saja sekedarnya saja. Tidak sesuai dengan harapan saat harga lebih mahal yang dapat menjadikan petani lebih bergairah menanam bawang.

Menanam bawang merah diakui penuh dengan spekulasi. Pasalnya, serangan hama dan kondisi cuaca sangat mempengaruhi kualitas produksi. Bawang merah tidak bisa diterpa panas yang berlebihan. Begitupun tidak bisa juga didera hujan yang terus-terusan. Serangan hama menjadi ancaman terbesar bagi petani bawang merah. (rus)