Beranda Headline Kontribusi Sektor Pertanian Lotim Terus Menurun

Kontribusi Sektor Pertanian Lotim Terus Menurun

Selong (Suara NTB) – Catatan terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Timur (Lotim), pertumbuhan ekonomi Lotim mencapai 5,9 persen. Angka ini mengalami kenaikan dari sebelumnya, 2014 sebesar 4,93 persen. Sektor pertanian, tetap merajai dengan sumbangan 28,9 persen. Hanya saja, dalam empat tahun terakhir sumbangan sektor pertanian sebagai sektor paling dominan ini terus mengalami penurunan.

Dikemukakan Kepala BPS Lotim, M. Saphoan kepada Suara NTB, Jumat, 24 Februari 2017, sumbangan sektor pertanian yang tergambar dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ini mengalami penurunan terus. Data tahun 2011, sumbangan sektor primer ini 30,79 persen. Terakhir menjadi 28,9 persen.

Penurunan share sektor pertanian terhadap perekonomian Lotim ini dinilai akibat dari beberapa faktor. Antara lain alih fungsi lahan yang tidak bisa dinafikan terjadi setiap tahun. Akibat itu, tidak sedikit warga yang sebelumnya menjadi petani pindah ke sektor lain.

Penurunan share PDRB dari pertanian ini diyakinkan bukan menggambarkan tingkat kesejahteraan petani. Kesejahteraan petani  dalam hitungan BPS diteragkan dalam indeks Nilai Tukar Petani (NTP). Dalam NTP ini, jika indeksnya semakin naik menunjukkan harga komoditi pertanian tersebut lebih besar dari biaya produksi. Sehingga bisa disimpulkan, tingkat kesejahteraan petani lebih baik.

Ditambahkan Saphoan, share PDRB yang semakin berkurang memang menunjukkan fakta adanya pergeseran lapangan usaha. Sebelumnya, ada yang memiliki sawah namun karena tanah terjual kemudian beralih tidak lagi menjadi petani.

Untuk mempertahankan agar sektor primer ini bisa tetap memberikan sumbangan besar, maka pemerintah harus bisa menambah lahan-lahan pertanian. Imbangi sektor alihfungsi lahan dengan pengadaan sawah baru.

Penurunan PDRB ini diakui Kepala Bappeda Lotim, Ahmad Dewanto Hadi. Ditemui sebelumnya, ia menjelaskan, penurunan salah satunya disebabkan alihfungsi lahan yang terjadi tiap tahun. Selama empat tahun terakhir, share pertanian ke PDRB plus minus 1-2 persen.

“Tidak bisa kita menghindar karena perkembangan perkotaan,” ungkapnya.  Diyakinkan Dewanto Hadi, penurunan share terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan sampai hilang. Karena sumbangan sektor primer itu sampai saat ini paling dominan dibandingkan sektor lain.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Lotim, H. Badaruddin mengutarakan, soal alihfungsi lahan dengan pengadaan sawah baru sejauh ini bisa dikatakan berimbang. Karena alihfungsi tersebut belum dirasakan dampaknya pada penurunan produksi. Faktanya, selama ini, produksi tanaman pangan umumnya justru terus mengalami hingga surplus.

Tidak ditampik, persoalan alihfungsi lahan ini bisa mengancam keberadaan lahan. Karena itulah, sudah mulai dipikirkan oleh pemerintah dengan melahirkan produk lahan abadi. Lahan-lahan abadi pertanian itu dimaksudkan agar tidak mudah dialihfungsikan. Hanya saja, akuiya, untuk melarang warga tidak melakukan alihfungsi menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. (rus)