Lumbung Sasak Harus Diselamatkan dari Ancaman Kepunahan

Selong (Suara NTB) – Lumbung Sasak saat ini terasa sangat sulit sekali ditemukan. Bangunan lumbung yang menjadi ciri khas Suku Sasak kini semakin terancam punah. Alasan inilah yang membuat M. Zohriyadi Razak, seorang pemuda kreatif asal Repok Daya Desa Masbagik Utara Kecamatan Masbagik mencoba menyelamatkan lumbung Sasak dari kepunahan.

Ditemui di rumahnya, Sabtu, 21 Januari 2017 lalu, ia menguraikan, semenjak beberapa tahun terakhir ini ia menggeluti kerajinan pembuatan lumbung. Kegiatannya ini pun mendapat respons baik di pasar. Alhasil, produk lumbung yang dibuatnya kini sudah dipasarkan ke sejumlah daerah. “Yang sudah  membeli dari Malang dan Surabaya Jawa Timur,” klaimnya.

Tidak terkecuali, lanjutnya, masyarakat sekitar Desa Masbagik Utara yang juga tertarik dengan Lumbung Karya Razak. Mantan karyawan PT BAT yang banting setir menjadi perajin lumbung ini mengaku ingin mengembalikan lumbung sebagai salah satu simbol kecerdasan masyarakat Suku Sasak.

Dia katakan, bentuk bangunan Lumbung yang sebagian besar bahannya dari kayu nangka dengan atap daun ilalang ini ternyata memperlihatkan arsitektur yang sangat andal. Bahkan dalam pandangan Razak ini masyarakat Suku Sasak sudah memiliki gaya arsitektur menyamai bangunan-bangunan megah di Eropa.

Seni arsitek lumbung terlihat dari bentuk tiang lumbung berbentuk bulat, adanya jelepeng yang berbentuk lingkaran dan terpatri dengan sangat apik. Sepengetahuannya, arsitek lumbung ala masyarakat Sasak zaman dahulu ini membuat lumbung dengan peralatan yang sangat sederhana.

Pilihan kayunya pun mengedepankan kearifan lokal. Tidak menggunakan kayu hutan. Melainkan kayu nangka yang banyak ditemukan di kebun-kebun warga. “Kayu nangka ini terbilang unik, selain kuat dan usianya bisa sampai ratusan tahun, kayu nangka juga tidak bisa dimakan rayap,” ungkapnya.

Ketertarikan Razak pada lumbung, tuturnya karena besar kecilnya dulu di bawah lumbung. Belakangan, lumbung yang juga dikenal sebagai tempat penyimpanan gabah hasil panen ini terbilang hanya bisa ditemukan di kampung-kampung adat.

Eksistensi lumbung, lanjutnya harus dikembalikan. Generasi penerus Suku Sasak setidaknya tidak hanya mengetahui lumbung dari cerita. Tapi benar-benar mengetahui dengan melihat bentuk fisik.

Dari beberapa karya lumbung yang sudah dibuat, cukup banyak yang minat meski harganya terbilang cukup mahal. Satu lumbung dihargakan Rp 30-40 juta. Tergantung besar kecilnya, bahkan ada yang harganya tembus sampai mendekati Rp 100 juta. Pada salah satu karyanya, Razak memberikan sentuhan modern, karena di atasnya dijadikan tempat tidur. (rus)