VIDEO – Keping-keping Sejarah Kita yang Terancam di Sembalun

Mataram (Suara NTB) – Tak banyak yang menyadari bahwa di balik potensi alamnya yang cantik, Kawasan Wisata Sembalun juga menyimpan cukup banyak aset sejarah yang berharga. Sayangnya, warga tidak punya cukup kemampuan untuk merawat dan mempertahankannya. Sejumlah benda bersejarah pun raib dan sebagian lainnya rusak dimakan usia.

Salah satu rumah tradisional bersejarah masih berdiri dengan kokoh di Montong Mentagi. Rumah kuno yang menjadi situs itu, diperkirakan telah berdiri sejak zaman kerajaan.

“Rumah ini adalah peninggalan nenek moyang saya yang diwarisi secara turun temurun. Konon, tempat ini merupakan lokasi istana kerajaan yang ditempati Datu Sembah Ulun,” tutur Mantan Kepala Desa Sembalun Lawang, Ustadz Arrahman Sembah Ulun, Senin, 16 Januari 2017.

Rumah yang ia pelihara itu, merupakan satu di antara sekian bangunan yang bisa diselamatkan. Banyak rumah kuno yang sudah ambruk. Rumah – rumah itu tidak pernah dirawat dengan baik. Sehingga, konstruksi bangunannya semakin rapuh seiring perkembangan waktu.

“Rumah yang ini saja belum ada biaya buat kami renovasi. Dulu, sebelum saya menjabat sebagai kepala desa, tempat ini menjadi lokasi wisata,” jelasnya.

Pada lahan seluas kurang lebih 50 are itu, ia menanam ratusan jenis tanaman obat. Sayangnya, setelah tempat itu tak dikelola dengan baik, seluruh jenis tanaman obat yang pernah ia budidaya punah begitu saja. “Setelah diteliti, bahkan semua jenis tanaman liar yang tumbuh disini ini, memiliki khasiat untuk pengobatan,” ujarnya.

Pihaknya berencana merenovasi rumah kuno tersebut. Ia juga akan menata kembali pekarangan di kawasan yang konon menjadi istana kerajaan itu. Ketua Kepemangkuan adat di Desa Sembalun ini, menginginkan agar situs rumah bersejarah itu dijadikan destinasi wisata halal.

Alasannya, di dalam rumah tersebut dirinya masih menyimpan perkakas-perkakas leluhur masyarakat Sembalun yang beragama Islam. Di dalam rumah itu, dirinya menyimpan sebuah Al-Quran tulisan tangan. Kitab suci umat Islam itu terbuat dari kulit onta.

“Sebenarnya masih banyak lagi benda – benda pusaka yang bersejarah. Al-Quran ini adalah salah satunya. Kitab – kitab yang berisi hadis juga banyak. Semuanya kami simpan. Dan anak – anak sekarang membuat perpustakaan mini sebagai tempat menyimpannya,” jelas ustadz yang mendirikan pondok pesantren di Lendang Kemalik, Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur ini.

Selain Al-Quran, pihaknya juga menemukan benda – benda pusaka milik berbagai kerajaan. Salah satunya yakni keris pusaka kerajaan Majapahit. Sebilah keris yang berwarna merah – putih itu diambil oleh orang yang tak pernah ia kenal. Orang itu, mendatangi Ustadz Arrahman secara tiba – tiba.

“Keris itu saya temukan di Lendang Kemalik. Orang yang saya anggap asing itu mengaku berasal dari Jawa. Dia diperintahkan untuk datang mengambil keris pusaka, milik kerajaan Majapahit yang katanya masih ada disini,” ujarnya menuturkan.

Selama kurang lebih setengah tahun, Ustadz Arrahman belum berhasil menemukan keris seperti yang dimaksud orang yang tidak dikenalnya itu. Ia sampai menyisir seluruh lokasi yang pernah ditempati pasukan kerajaan Majapahit yang datang ke Lombok.

“Anehnya, saya tidak tergerak untuk menanyakan siapa nama orang itu. Dan, keris itu saya temukan di Lendang Kemalik ini. Kerajaan Majapahit kan memang memiliki dua pusaka keris kiri dan kanan. Bentuknya serupa tetapi warnanya beda – beda. Ada yang putih biru dan ada yang merah putih,” tandasnya. (met)