Sambut MotoGP, Desa Mertak Tata Desa Wisata

Taman Wisata Alam Gunung Tunak (Suara NTB/dok)

Praya (Suara NTB)   Pemerintah Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sedang berupaya menata desa wisata untuk mendukung event bergengsi MotoGP tahun 2021 mendatang. Penataan desa wisata ini merupakan program yang sedang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang datang ke daerah ini.

Kepala Desa Mertak, H. Bangun kepada Suara NTB, Senin, 18 November 2019  mengatakan, penataan sarana dan prasarana desa wisata mau tak mau harus dilakukan mulai dari sekarang, karena jika KEK Mandalika sudah berkembang pesat, desa wisata bisa kewalahan menerima tamu yang datang.

“Sekarang kondisinya memang sedang tertatih-tatih, namun itu sebagai penyemangat untuk membangun. Tidak mungkin langsung ngejoss, pasti ada prosesnya,” katanya.

Pemerintah Desa Mertak melalui BUMDes akan bekerjasama dengan BKSDA untuk mengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak yang memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. “Sedang berupaya kerjasama dengan BKSDA agar diberikan izin mengelola kawasan. Nanti konsepnya pemberdayaan, BUMDes jadi depan. Nanti dari BKSDA dapat PNBP saja, selebihnya untuk pemberdayaan BUMDes, untuk kesejehteraan pengelola di sana dan lain sebagainya,” tambahnya.

Ada banyak paket-paket wisata yang akan dijual kepada wisatawan, mulai dari spot swafoto yang sangat menarik, wisata alam keluarga, wisata pantai, wisata kuliner dan lain sebagainya. Selain dari dana desa, pemerintah pusat juga memberikan dukungan.

Kalau dari dana desa, anggaran 10 persen sudah harus diberikan kepada BUMDes. Selanjutnya BUMDes akan menjalankan berbagai macam usaha yang dapat mendatangkan pendapatan bagi pemerintah desa, termasuk melalui pengembangan desa wisata ini.

Bangun menuturkan, dirinya sudah melihat dari dekat pengelolaan wisata di beberapa daerah, termasuk di Provinsi DI Yogyakarta. Di provinsi ini, banyak desa yang sudah berkembang menjadi desa wisata unggulan dengan jumlah wisatawan yang sangat banyak. Pola pengembangan wisata di daerah lain bisa diaplikasikan di dalam daerah.

Terkait dengan pembangunan homestay yang dikelola langsung oleh masyarakat, saat ini jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Namun ke depan, jumlahnya akan mencapai ratusan seiring dengan intervensi dari pemerintah pusat. “ Dari Kementerian PUPR, tahun 2020 kami dapat gambaran sekitar 200 unit kita akan dikasih. Rumah penduduk akan didesain jadi penginapan untuk menyambut tamu yang datang,” tuturnya. (ris)