Wacana Kereta Gantung di Rinjani Harus Dikaji Mendalam

Kereta Gantung. (Sumber Foto : Pexels)

Praya (Suara NTB) – Wacana pembangunan kereta gantung di jalur trekking Rinjani sudah lama mengemuka. Bahkan kabarnya pemerintah pusat sudah memberi lampu hijau terhadap rencana proyek ini. Namun demikian, pembangunan kereta gantung ini harus dikaji lebih dalam.

“Kalau menurut saya banyak hal yang harus diperhatikan, banyak hal yang harus dikaji sebelum mengarah ke sana. Kajiannya meliputi sosial budaya, visibility studyengineering, pangsa pasar dan lain sebagainya,” kata Anggota DPRD NTB dapil Lombok Tengah, Drs. H. Ruslan Turmuzi kepada Suara NTB di Praya, Rabu, November 2019

Menurutnya, wisata trekking Rinjani adalah bagian dari wisata minat khusus. Artinya tidak semua orang tertarik untuk memilih destinasi wisata pegunungan dalam berlibur. Aspek ini pula yang harus menjadi bahan kajian dari pemeirntah daerah. Ia mengatakan, investasi kereta gantung di wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) membutuhkan investasi yang besar. Tentunya perusahaan akan mempertimbangkan aspek return on investment-nya karena mereka berorientasi profit.

“Justru kalau menurut saya yang lebih visible yaitu kita hadirkan tol dari Lembar menuju Lotim karena jalan raya kita semakin hari semakin krodit. Undang investor untuk ikut membangun,” ujar politisi PDIP ini. Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Loteng H.Lalu Putria mengatakan, pihaknya optimis suatu saat nanti kereta gantung itu akan terwujud. Terlebih wacana kereta gantung sudah muncul dari cerita-cerita orang tua

masyarakat Sasak di masa lampau.

“Ini ide nenek moyang dulu, mereka sudah menyebutnya dalam cerita, di mana para aulia dulu saat ada pembicaraan penting akan sangkep atau rapat di danau segara anak. Dari Pelawangan naik menggunakan tangga dari datun belai.  Inilah yang kemudian coba kita implementasikan sekarang. Mungkin tangga datun belai itu artinya kereta gantung,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ada yang mustahil jika pemerintah, masyarakat dan investor setuju untuk membangunnya untuk kebaikan bersama.” Jika itu terwujud, akan semakin bagus asalkan ada awik-awik yang dibuat secara bersama-sama” tambahnya. Sebelumnya, Bupati Loteng H.Suhaili FT akhir September lalu mengatakan, rencana pembangunan kereta gantung ini sedang diproses izinnya setelah pemerintah pusat memberikan respon positif terhadap rencana ini.

Dalam arti, secara prinsip pemerintah pusat tidak mempermasalahkan fasilitas tersebut dibangun di jalur yang digunakan sebagai jalur trekking Rinjani di Loteng.

Dari perencanaan awal, panjang jalur kereta gantung yang akan dibangun sekitar 9 km dimulai dari kawasan Taman Hutan Rakyat di Desa Lantan hingga Pelawangan. Dari Pelawangan, wisatawan bisa turun langsung ke Danau Segara Anak.

“Tinggal sekarang kita menunggu siapa investor yang paling siap dan sanggup berinvestasi,” kata Bupati seperti yang dilansir Suara NTB tanggal 30 September  lalu. (ris)