Hendak Gusur Pasar Hewan, Warga Batunyala Hadang Alat Berat Pemda

Warga menghadang alat berat yang akan mengusur pasar hewan Batunyala. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Ratusan warga Desa Batunyala Kecamatan Praya Tengah, Jumat, 9 Agustus 2019 kemarin, menghadang alat berat milik Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). Sebagai bentuk protes atas rencana Pemkab Loteng yang hendak menggusur sekaligus memindahkan pasar hewan Batunyale. Akibat penghadangan tersebut, Pemkab Loteng pun akhirnya memutuskan menunda rencana penggusuran pasar hewan Batunyala tersebut.

Informasi yang diperoleh Suara NTB, menyebutkan, warga mulai berkumpul usai salat Jumat. Setelah mendapat informasi kalau akan ada alat berat diturunkan oleh Pemkab Loteng untuk meratakan Pasar Batunyala. Benar saja, alat berat yang disebutkan datang. Sontak warga bereaksi.

Aparat kepolisian yang datang sempat berusaha bernegosiasi dengan warga. Tetapi warga tetap ngotot untuk tidak memberikan akses bagi alat berat milik Pemkab Loteng tersebut untuk masuk ke area pasar. Keterangan pun sempat terjadi antara warga dengan aparat kepolisian serta petugas dari Pemkab Loteng.

Upaya negosiasi dengan warga terus dilakukan hingga menjelang sore hari. Tetapi upaya negosiasi tidak membuahkan hasil. Warga masih tetap ngotot bertahan dan menolak rencana Pemkab Loteng yang akan memindahkan dan meratakan area pasar hewan Batunyala.

Karena tidak membuahkan hasil, Pemkab Loteng akhirnya menarik kembali alat berat tersebut. “Pada prinsipnya warga tetap menolak rencana pemerintah daerah yang akan memindahkan pasar hewan Batunyala. Warga ingin pasar tetap ada di sini,” tegas Dodik, perwakilan warga.

Dikatakannya, saat hearing dengan DPRD Loteng Kamis kemarin, disepakati kalau pemindahan pasar hewan ditunda sampai ada kejelasan soal solusi terkait nasib para pedagang yang menggantungkan hidup di pasar Barabali. Sehingga warga masih akan bertahan, sampai ada jawaban atas tuntutan warga.

Terpisah, Ketua DPRD Loteng, H. Achmad Puaddi FT., S.E., berharap segera ada solusi terkait polemik pemindahan pasar hewan Batunyala tersebut. Baik warga maupun Pemkab Loteng bisa saling menahan diri. Dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa memicu konflik. “Pada prinsipnya apa yang dilakukan pemerintah daerah pasti sudah dipertimbangkan dengan mata. Tetapi kondisi warga juga tetap harus diperhatikan,” tandasnya.

Pihaknya mengaku memang banyak mendapat keluhan soal keberadaan pasar hewan Batunyala yang dinilai tidak layak. Baik itu dari fasilitas termasuk kondisi pasar hewan itu sendiri. Sehingga pemindahan pasar memang menjadi salah satu solusinya. Namun demikian, pemindahan tersebut jelas juga berdampak pada nasip warga sekitar. Itulah yang harus dipikirkan oleh pemerintah daerah.

“Kalau kami di DPRD Loteng tetap mendukung program dan rencana pemerintah daerah. Tetapi aspek-aspek yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat bawah juga perlu dipertimbangkan,” timpal Puad.

Dengan kata lain, kalaupun pemerintah daerah tetap bersikeras untuk memindahkan pasar hewan Batunyala, maka nasib warga yang menggantungkan hidup di pasar hewan Batunyala juga patut dipertimbangkan. “Setiap program pasti ada dampaknya. Itulah yang harus dimininalisir,” imbuhnya. (kir)