Loteng Tetapkan Status Siaga Kekeringan

Distribusi air bersih di daerah terdampak kekeringan di Loteng. (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Pemkab Lombok Tengah (Loteng) telah menetapkan status siaga kekeringan di daerah ini. Semua elemen pun digandeng untuk membantu menangani dampak kekeringan yang kemungkinan bisa timbul. Tidak itu, tim khusus penanganan dampak kekeringan juga sudah dibentuk. Di mana, BPBD Loteng sebagai lokasi Posko Terpadu Penanganan Dampak Kekeringan.

Sekda Loteng, H.M. Nursiah, S.Sos.M.Si., kepada wartawan, Jumat,  12 Juli 2019 mengatakan, dengan penetapan status siaga ini semua pihaknya bisa ikut terlibat dalam upaya penanganan dampak kekeringan yang terjadi. Menurutnya, tidak akan bisa maksimal upaya penanganan dampak kekeringan kalau kemudian hanya mengandalkan pemerintah daerah saja.

“Keterlibatan pihak-pihak lainnya sangat diharapkan dan bakal menentukan keberhasilan dalam upaya penanganan dampak kekeringan tersebut,” ujar Nursiah.

Pemkab Loteng, ujarnya, sudah mengumpulkan semua elemen terkait mulai intansi terkait pemerintah sampai dengan BUMD dan BUMN yang ada di daerah ini dan semua sepakat untuk bersama-sama mendukung upaya penanganan dampak kekeringan di daerah ini. “Kemarin semua elemen sudah kita kumpulkan. Dan, sepakat akan membantu penanganan kekeringan di daerah ini,” sebutnya.

Dengan begitu Pemkab Loteng kini fokus untuk melakukan up date data daerah terdampak kekeringan. Adanya data ini bisa menjadi acuan bagi daerah dalam melakukan penanganan dampak kekeringan.

“Untuk up date data daerah kekeringan ini, ditugaskan kepada BPBD. Namun sebagai data awal, total desa yang terdampak kekeriangan di Loteng sebanyak 80 desa. Tersebar di 8 kecamatan. Dengan beberapa kecamatan diprediksikan mengalami kekeringan paling parah, yakni Kecamatan Pujut, Praya Barat serta Praya Barat Daya dan Praya Timur,’’ ujarnya.

Meski demikian, ada kemungkinan jumlah daerah yang terdampak kekeringan bertambah, sehingga up date data daerah terdampak kekeringan diupayakan tidak sekali, tapi secara berkala.

Terkait penanganan dampak kekeringan, lanjut Nursiah ada yang bersifat jangka pendek. Ada juga yang bersifat jangka panjang. Nah, untuk saat ini fokus penanganan pada penanganan jangka pendek dengan melakukan droping air bersih ke kantong-kantong kekeringan sembari itu program-program penanganan jangka panjang akan diupayakan melalui program pemerintah.

“Yang menarik informasi dari pihak BMKG, musim kemarau hanya sampai bulan Agustus. Kita berharap prediksi ini benar,” ujar mantan Asisten III Setda Loteng ini. (kir)