Praya Penyumbang Sampah Terbesar di Loteng

Tumpukan sampah tampak di salah satu sudut sungai di Kota Praya. Dari total sampah yang ditangani Dinas Lingkungan Hidup Loteng saat ini, sebagian besar berasal dari wilayah Kota Praya. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) –  Kecamatan Praya menjadi penyumbang sampah terbesar di Lombok Tengah (Loteng). Di mana hampir sebagian besara total volume sampah yang ditangani Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Loteng, berasal dari wilayah ibu kota kabupaten ini.

 Kepala DLH Loteng, L. Rahardhian, kepada Suara NTB, Selasa, 9 Juli 2019, menjelaskan, saat ini total sampah yang ditangani Dinas Lingkungan Hidup per tahun mencapai rata-rata 625 ribu meter kubik. Dan, hampir sebagian besar di antaranya berasal dari wilayah Kecamatan Praya.

Hal itu bisa dimaklumi, selain jumlah penduduknya cukup banyak. Beberapa pusat ekonomi berada di wilayah ini, seperti Pasar Renteng, pertokoan serta beberapa pasar lainnya.  “Jumlah rumah tangga di wilayah Praya cukup besar dan padat. Inilah yang menjadi penyumbang sampah di wilayah Kecamatan Praya,” sebutnya. Di mana hampir 36 persen sampah merupakan sampah rumah tangga. Sisanya 24 persen merupakan sampah dari pasar.

Untuk itu, ujarnya, penanganan sampah Kecamatan Praya mendapat perhatian khusus. Misalnya, untuk pengangkutan sampah itu dilakukan rutin setiap hari. Sementara kecamatan lain bisa dua hari sekali bahkan sekali seminggu. Selain itu, armada pengangkut sampah untuk wilayah Kecamatan Praya juga lebih banyak.

Diakuinya,

untuk menekan volume sampah di wilayah Kecamatan Praya bukan pekerjaan mudah, tapi butuh upaya ekstra keras untuk bisa menekan volume sampai di Kecamatan Praya, sehingga upaya yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup saat ini ialah bagaimana menekan dampak dari volume sampah yang besar tersebut.

Salah satunya dengan membangun fasilitas pengolahan sampah di wilayah Desa Batunyala. Harapannya, sampah-sampah yang berasal dari wilayah Kecamatan Praya diolah terlebih dahulu di fasilitas tersebut. Sementara sisa sampah hasil pengolahan yang tidak bisa diolah itulah yang kemudian dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Pengengat.

“Pembangunan fasilitas pengeolahan sampah ini dibiayai oleh pemerintah pusat. Kita hanya menyiapkan lahan. Rencananya tahun ini fasilitas tersebut akan dibangun,” terangnya.

Selain membangun fasilitas pengelolahan sampah terpadu, pihaknya juga terus menggalakkan fasilitas pengolahan sampah berbasis rumah tangga di beberapa titik di wilayah Kecamatan Praya, baik itu pengolahan sampah untuk kompos ataupun pengolahan sampah untuk kerajinan. Sementara untuk menampung hasil komposis maupun kerajinan dari fasilitas pengolahan sampah tersebut, pihaknya sudah menggandeng Bank Sampah NTB. ‘’Jadi berapa pun hasil pengolahan sampah yang ada siap ditampung oleh Bank Sampah NTB tersebut,’’ klaimnya. (kir)