Pembebasan Lahan Sirkuit MotoGP, Warga Patok Harga Rp300 Juta Per Are

Gambar desain sirkuit MotoGP Mandalika yang dirilis Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC). (Suara NTB/ig_itdc)

Praya (Suara NTB) – Proses pembebasan sisa lahan untuk pembangunan sirkuit MotoGP di kawasan The Mandalika sampai saat ini masih tarik ulur. Pasalnya, masih ada warga yang enggan melepas lahannya sesuai harga yang ditawarkan pihak Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Warga meminta harga pembebasan lahan paling tidak Rp 300 juta per are.

“Sebenarnya kami tidak mau melepas lahan kami. Karena lahan ini merupakan peninggalan orang tua dan sumber penghidupan kami. Tapi kalau pihak ITDC bersedia membayar sampai Rp300 juta per are, kami siap melepas lahannya,” kata Damar, warga Dusun Ebunut Desa Kuta Pujut kepada Suara NTB, Minggu,  16 Juni 2019.

Dikatakannya, sebelumnya pihak ITDC pernah menawarkan hanya pembebasan lahan sebesar Rp70 juta per are. Tapi ditolak oleh warga. Karena nilai tersebut dinilai terlalu rendah dan jauh dari harga pasaran di sekitar kawasan The Mandalika. Bahkan kalaupun pihak ITDC menawarkan harga sampai Rp100 juta pun, warga masih akan menolak.

Lebih lanjut, Damar mengaku pihak ITDC juga pernah menawarkan sistem tukar lahan dengan lahan milik ITDC. Dengan pola satu banding satu. Namun tawaran tersebut juga ditolak oleh warga. Karena nilai lahan yang ditawarkan tersebut tidak sebanding dengan nilai lahan milik warga.

“Prinsipnya kami akan tetap bertahan. Kecuali kalau ada penawaran yang sesuai dengan permintaan kami,” tandasnya. Karena memang lahan tersebut merupakan lahan warisan dan punya nilai sejarah bagi warga. Sehingga agak sulit bagi warga untuk melepasnya dengan harga rendah.

Terpisah, anggota BPD Desa Kuta, Alus Darmian, mengaku wajar kalau warga menolak. Pasalnya, nilai pembebasan lahan yang ditawarkan oleh pihak ITDC terlalu rendah. Di satu sisi, kisaran harga lahan di sekitar kawasan The Mandalika saat ini sudah berkisar di atas Rp100 juta per are. Sehingga warga menilai harga yang ditawarkan pihak ITDC tidak wajar.

Karena kalau warga menerima harga yang ditawarkan oleh ITDC, jelas warga tidak akan bisa membeli lahan pengganti. Karena harga lahan sudah sangat tinggi. “Harapan kita ada solusi terbaik yang ditawarkan oleh ITDC. Supaya warga juga tidak terlalu merugi,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Teknis dan Operasi ITDC, Ngurah Wirawan mengatakan kalau harga yang ditawarkan pihaknya yakni antara Rp70 sampai Rp80 juta. Itu sesuai hasil penilaian tim apraisal independen. Sehingga pihaknya tidak berani membayar lebih dari hasil tim apraisal, karena itu menyalahi aturan.

“ITDC itu BUMN, jadi kalau mau membebaskan lahan ada aturannya. Tidak bisa langsung membayar begitu saja. Tanpa ada dasar penilaian dari tim apraisal,” terangnya. Pun demikian, apa yang menjadi permintaan warga tetap akan dipertimbangkan.

Pihaknya optimis persoalan pembebasan lahan untuk pembangunan sirkuit MotoGP tersebut bisa dituntaskan. Apalagi nanti pemerintah pusat akan turun tangan membantu menyelesiakan persoalan lahan ini. (kir)