Distan Loteng Selidiki Dugaan Benih Kedaluwarsa

TUNJUKKAN - Sekretaris Dinas Pertanian Loteng Taufikurrahman menunjukkan sampel benih padi hibrida yang saat ini sedang diteliti, karena adanya dugaan benih bermasalah di petani. (Suara NTBkir)

Praya (Suara NTB) – Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) saat ini sedang menelusuri dugaan adanya benih bantuan kedaluwarsa yang diterima petani di daerah ini. Penelusuran dilakukan menyusul masuknya laporan dari petani soal adanya benih bantuan yang ternyata tidak bisa tumbuh.

 

“Benih bantuan ini jenis padi hibrida,” ungkap Sekretaris Dinas Pertanian Loteng, Taufikurrahman, PN., kepada Suara NTB, Selasa, 11 Desember 2018.

 

Sebelumnya, ada laporan yang masuk dari petani kalau benih bantuan pemerintah yang diterimanya tidak bisa tumbuh, bahkan benih tersebut busuk dan menghitam setelah sempat direndam. Akibatnya, benih hibrida tersebut tidak bisa ditanam oleh petani.

 

Mendapat laporan tersebut Dinas Pertanian Loteng kemudian turun dan sempat menarik beberapa sampel benih bantuan untuk kemudian diuji tumbuh di lahan milik Dinas Pertanian Loteng.  “Dan, ternyata daya tumbuhnya cukup tinggi mencapai 87 persen,” sebutnya.

 

Untuk itu, pihaknya menyimpulkan, jika benih tidak tumbuh lantaran pola penanganan yang kurang tepat, karena benih hibrida tersebut butuh penanganan khusus dan tidak bisa disampaikan pola penanganan dengan jenis benih non hibrida lainnya.

 

“Di label benih sudah ada petunjuk penyemaiannya. Kemungkinan petunjuk tersebut tidak dijalankan oleh petani. Sehingga benih tidak tumbuh. Bahkan menjadi rusak,” tambahnya. Namun ada juga kemungkinan kekeliruan pada saat penyimpanan sebelum benih dikirim dan diterima oleh petani.

 

Untuk itu, pihaknya masih terus menelusuri penyebab yang pasti. Pihaknya penyedia benih juga sudah disurati. Dan, pihak penyedia menegaskan siap mengganti benih hibrida jenis B9 tersebut jika memang benihnya yang bermasalah. “Penyebab pastinya masih kita selidiki. Bagaimana hasilnya akan disampaikan ke pihak penyedia dan petani penerima,” sebutnya.

 

Ia menjelaskan, pada musim kali ini Loteng memperoleh bantuan benih hibrida dari pemerintah pusat sebanyak 75 ton. Benih ini diarahkan sebagai konvensasi bagi petani yang pada musim tanam kemarin mengalami gagal tanam akibat kekeringan dengan luas lahan yang mendapat konvensasi sekitar 5.000 hektar.

 

Di mana setiap petani memperoleh bantuan bervariasi antara 5 sampai 10 kg benih padi hibrida. “Padi ini padi jenis hibridasi jadi penggunaannya tidak butuh banyak.  Per hektarnya paling banyak hanya butuh 15 kg. Karena pola tanamnya berbeda dengan jenis bibit padi pada umumnya,” imbuh Taufikurrahman. (kir)