Sulit, Tekan Angka Kemiskinan di Loteng

Praya (Suara NTB) – Angka pengangguran di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sejauh ini tercatat masih cukup tinggi. Di mana dari 700 ribu lebih angkatan kerja di daerah ini, sekitar 5 persen di antaranya merupakan pengangguran terbuka alias belum memiliki pekerjaan sama sekali. Sementara hampir setengah dari sisa yang ada, sudah memiliki pekerjaan, tapi dengan tingkat penghasilan rendah.

“Kondisi ini yang membuat upaya menekan angka kemiskinan di Loteng menjadi agak sulit. Karena angka kemiskinan terselubungnya masih cukup tinggi,” ungkap Asisten I Setda Loteng, Ir. H.L. Moh. Amin, kepada Suara NTB, Sabtu, 8 Oktober 2016.

Baca juga:  Anggaran Rp220 Miliar, Penurunan Angka Kemiskinan Tak Capai Satu Persen

Dikatakan kemiskinan terselubung, karena dari sisi kuantitas dan kontinyuitas pekerjaan sudah ada. Hanya dari sisi kualitas yang masih rendah. Dengan kata lain, pekerjaan sudah punya, pendapatan juga ada dan tetap ada setiap bulannya. Tapi dari sisi kualitas pendapatannya, masih rendah.

Ironisnya, angkatan kerja berpendapatan rendah ini didominasi oleh angka kerja terdidik, seperti guru dan sarjana lainya. “Contoh, Guru Tidak Tetap (GTT) dan guru honorer. Secara kuantitas dan kontinyuitas pekerjaan mereka punya. Tapi lihat penghasilan yang diperoleh setiap bulan, jauh di bawah standar yang ada,” ujarnya.

Baca juga:  Perbaiki Pemukiman Warga, Percepat Penurunan Kemiskinan

Dengan kata lain penghasilan yang diperolehnya, belum bisa menutupi kebutuhan hidup selama satu bulan, karena penghasilan yang didapat jauh di bawah angka Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang ada. “UMK Loteng saat ini sebesar Rp 1,3 juta. Itu artinya, kebutuhan hidup minimal masyarakat di Loteng selama satu bulan sebesar itu. Sementara banyak angkatan kerja terdidik kita yang penghasilan jauh di bawah standar tersebut,” jelasnya. (kir)