Kontraktor Kena Denda, Pengerjaan Proyek Irigasi Rp2.5 Miliar Molor

Pengerjaan proyek irigasi Embung Telaga Lebur molor. Proyek ini juga dikeluhkan warga lantaran sisa materialnya menghambat arus lalu lintas. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pengerjaan proyek irigasi embung Telaga Lebur Desa Sekotong Tengah kecamatan Sekotong molor dari kontrak kerja. Sesuai kontrak kerja, pekerjaan proyek irigasi senilai Rp2.5 miliar tersebut berakhir sepekan lalu namun pihak rekanan belum bisa menuntaskan akibat beragam faktor, terutama non teknis. Akibat tak mampu menyelesaikan proyek tersebut sesuai kontrak, rekanan proyek ini pun didenda.

Pihak rekanan memiliki waktu hingga tanggal 31 Desember untuk menyelesaikan pekerjaan proyek tersebut, jika tidak tuntas maka pihak pemda akan memutus kontrak kerja proyek tersebut. Namun dinas PU menagret rekanan harus menuntaskan proyek ini tanggal 15 Desember.

Hal ini diakui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Lombok Barat, Made Arthadana, baru-baru ini. Made mengakui proyek irigasi embung telaga lebur ini termasuk terlambat penyelesaiannya dari kontrak. Saat ini deviasi negatif alias target yang belum dicapai dan mesti dikejar mencapai 22 persen. Pihaknya sendiri dalam menilai proyek masuk kategori kritis jika deviasi negatif melampaui 5 – 10 persen. Kalau lebih dari 10 persen masuk sangat kritis.

Baca juga:  Biayai Proyek Mangkrak, Pemkab Lobar Butuh Rp4 Miliar Lebih

“Proyek irigasi ini sendiri progresnya sampai saat ini mencapai 78 persen lebih. Pengerjaan proyek ini termasuk molor dari kontrak kerja, ini sudah masuk sanksi denda selama satu minggu,” tegas dia.

Terkait penyebab molornya proyek ini, pihaknya tidak menjadikan hal itu pembenar. Namun menurut dia hal ini disebabkan murni kondisional proyek. Di masing-masing proyek memiliki tantangan tersendiri baik non teknis maupun teknis. Hal ini menjadi bagian yang harus disikapi untuk ditindaklanjuti pihaknya.

Yang jelas ia tak mau tahu entah itu kendalanya non teknis maupun teknis di lapangan, rekanan harus menyelesaikan proyek tersebut. “Yang jelas tidak ada argumentasi soal itu,” tegas dia. Ia pun sudah melakukan langkah-langkah percepatan dengan meminta rekanan mengatasi hambatan tersebut, apakah itu dengan penambahan pekerja,material dan jam kerja.

Baca juga:  Diduga Mangkrak, Polisi Dalami Proyek Renovasi Gedung DP2KB Kota Mataram

Lebih jauh kata dia, pihaknya juga sudah memberlakukan denda kepada rekanan. Terhitung sejak satu pekan rekanan disanksi denda. Sejak awal ini sudah turun beberapa kali mempercepat rekanan mengerjakan proyek ini, sehingga ada titik temu untuk percepatan pengerjaan proyek tersebut.

Informasi yang diserap Suara NTB di lapangan, pengerjaan proyek ini sempat mandek (stagnan) akibat kendala non teknis. Kondisi ini menyebabkan material tanah sisa bongkaran saluran irigasi menumpuk di akses jalan satu-satunya dilalui warga dari beberapa dusun setempat.

“Tumpukan tanah ini sangat menganggu arus lalu lintas karena memenuhi hingga badan jalan,” keluh warga setempat.

Selain tumpukan sisa material di pinggir jalan, warga juga mengeluhkan kualitas proyek akibat campuran material. Sampai saat ini pekerja masih melakukan Pengerjaan di lapangan untuk mengejar target penyelesaian. (her)