Banyak Perajin Genteng di Lobar Gulung Tikar

Perajin batu bata dan genteng di wilayah Aik Ampat Kelurahan Dasan Geres butuh perhatian pemerintah. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Perajin batu bata dan genteng di wilayah Lombok Barat (Lobar) mengeluhkan gempuran produk modern yang kian masif. Pasalnya akibat dari gempuran produk modern menutup pangsa pasar kerajinan lokal khas daerah setempat, sehingga mengakibatkan banyak perajin gulung tikar.

Kondisi ini diperparah, pemda kurang mengakomodir hasil kerajinan mereka untuk dipakai pada proyek-proyek pembangunan daerah. Untuk menghidupkan lagi kerajinan yang menjadi mata pencaharian utama warga,. Pemda diharapkan memberikan ruang bagi perajin untuk mengambil produk mereka untuk proyek pembangunan.

Salah seorang pengusaha di Aik Ampat Kelurahan Dasan geres, H Aris mengatakan sejauh ini banyak perajin di wilayah setempat banyak yang tidak lagi menjadi perajin, karena pembeli yang sepi, karena lebih memilih menggunakan produk modern, seperti genteng plastik dan batu bata ringan. “Banyak perajin yang berhenti karena sepi pembeli, kebanyakan orang memilih barang modern,” ujar dia.

Perajin pun lebih banyak beralih menjadi buruh dan tukang. Hanya sebagian perajin yang bertahan. Kondisi ini, diperparah akibat minimnya perhatian pemda dalam hal menggunakan produk lokal untuk pembangunan proyek pemda. Serapan genteng dan batu bata untuk pembangunan proyek minim sekali, padahal daerah ini dekat dengan pusat pemerintahan Pemda Lobar. Bahkan ada proyek dekat daerah itu justru tidak mengambil profil lokal setempat. Ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan perajin setempat dengan mengeluarkan semacam kebijakan khusus kepada OPD agar menyerap produk lokal warga setempat untuk proyek pembangunan.

Padahal kata dia, produk yang dihasilkan perajin tak kalah bagus dengan produk modern. Sebab genteng yang dihasilkan perajin pernah diuji di luar daerah dan hasilnya bagus kualitasnya. Dalam memproduksi kerajinan, perajin butuh waktu dan tenaga dengan biaya cukup tinggi. Bahkan hasil yang diperoleh tak sebanding dengan lelah. Perajin harus mengeluarkan biaya mulai dari bahan baku tanah dibeli dari luar daerah setempat, lalu ongkos angkut, ongkos pembuatan batu bata dan genteng hingga pembakaran. Perajin juga mengeluarkan biaya untuk membeli kayu. Tak sampai di situ, ongkos pengangkutan juga harus ditanggung perajin.

Lurah Dasan Geres, Hulaifi mengatakan hasil kerajinan batu bata dan genteng laris manis Bahkan pada sejak pembangunan rumah gempa produk kerajinan ini laris manis. “Produk kerajinan ini laris manis, apalagi batu bata. Perajin bahkan kewalahan saat pembangunan rumah gempa,” ujar dia.

Diakui sudah ada perhatian pemda terhadap para perajin. Bahkan sudah ada SE bupati kepada semua instansi untuk penggunaan produk lokal daerah. “Ini (genteng dan batu bata) juga termasuk dalam SE itu karena produk lokal,”jelas dia. Sejauh ini jumlah perajin di wilayah mencapai 200 orang yang masih aktif. (her)