Proyek Embung Ketapang Sekotong Senilai Rp2,6 Miliar Diduga Mangkrak

Proyek Embung Ketapang Sekotong yang dibangun tahun 2016 dengan dana Rp2,6 miliar lebih sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Proyek Embung Ketapang Kecamatan Sekotong senilai Rp 2.681.121.000 diduga mangkrak, lantaran belum dilengkapi sarana prasarana pendukung seperti jaringan irigasi. Warga hanya bisa mengambil air menggunakan pipa yang jangkauan sangat terbatas. Kondisi ini pun dipertanyakan warga. Di tengah kondisi musim kering, embung yang didanai dari Dana Lokasi Khusus (DAK) tersebut justru tak bisa memberikan solusi. Proyek ini memang diketahui sejak awal bermasalah lantaran pengerjaannya molor dari kontrak tanggal 21 Desember 2016, namun tuntas tahun 2017.

Salah seorang Warga Batu Putih, Munajah mengatakan Embung Ketapang belum bisa berfungsi sesuai harapan masyakarat karena belum dibangun jaringan irigasi. Sebelum embung dibangun, ada perpipaan dari Dinas Pertanian namun berada di luar bak penampungan embung. Sehingga untuk menyedot air menggunakan mesin pompa barulah warga bisa mendapatkan air. “Itu saja bisa dipakai oleh warga, ndak sampai satu hektar bisa diairi, karena tidak bisa jaringan irigasi,” ungkap dia.

Sebelum pembangunan, warga hanya diajak survei, perencanaan dan pengeboran saja. Namun setelah pelaksanaan sampai selesai dibangun warga tidak banyak yang tahu. Warga baru tahu setelah proyek selesai dibangun. Warga tidak tahu apa fungsi embung tersebut, apakah untuk penampungan air kawasan sekitar ataukah untuk irigasi. “Yang jelas warga tahunya bendungan itu untuk irigasi pertanian, tapi tidak sesuai harapan warga karena embung tersebut belum bisa dimanfaatkan,” imbuh dia. Justru kata dia, warga khawatir pada musim hujan ini, embung akan mengalami sedimentasi.

Menurut dia, warga sangat berharap agar embung ini segera dibangunkan jaringan agar bisa dimanfaatkan oleh petani. Sebab petani menilai embung tidak bermanfaat jika hanya sekedar untuk menampung air tanpa disalurkan ke lahan pertanian warga. Sementara itu, Kepala Desa Batu Putih, Fajrin Nur mengatakan sejak selesai dibangun 2017 lalu, embung yang terletak di Dusun Ketapang tersebut tak bisa dimanfaatkan oleh warga untuk irigasi pertanian. “Karena cuma dibangun badan embungnya saja, fasilitas pendukung seperti jaringan irigasi ndak ada sehingga belum bisa dimanfaatkan oleh warga,” kata Fajrin.

Proyek embubg ini dibangun akhir 2016 tersebut, belum bisa dimanfaatkan karena tidak ada fasilitas pendukung seperti pintu air, jaringan induk hingga jaringan cacing atau tersier. Penataan di embung tersebut sama sekali belum dilakukan, hanya bisa menampung air. Bahkan tampungannya lebih besar dibandingkan Bendungan Tibu Kuning.

Apabila jaringan embung ini terbangun, airnya bisa disuplai ke beberapa dusun seperti Ketapang, Mekar Sari hingga Labuan Poh. Pihaknya sendiri sudah melaporkan hal ini ke Dinas PU dan BWS, namun jawaban pihak terkait masih belum ada kejelasan. Bahkan kata dia, Tim Pemda sering meninjau embung tersebut namun tindaklanjut belum ada. Sebab kata dia, proyek ini mubazir jika tidak bisa dimanfaatkan oleh warga. “Kami akan bersurat secara resmi ke Pemda dan BWS,” tegas dia.

Sementara itu Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lobar Made Artadhana mengatakan Embung Ketapang Sekotong dibangun oleh BWS. Menurut dia, pembangunan embung tidak bisa serta merta dengan jaringan. Hal ini juga kaitannya dengan kesiapan biaya. Embung ini dibangun untuk penampungan air hujan. Diharapkan, warga yang tergabung dalam subak berperan membangun jaringan secara mandiri. “Tapi kami di Dinas PU tetap koordinasikan dengan BWS. Saya juga sudah kontak Satker agar bisa diprogramkan untuk pembangunan jaringan utamanya. Nanti kalau jaringan tersier bisa dari pihak pemilik tanah yang bisa mengupayakan membangun,” ujar dia. (her)