Mengintip Potensi Wisata hingga Gula Aren di Desa Pusuk Lestari

Salah seorang perajin gula aren di Desa Pusuk Lestari tengah mengambil air nira dari pohonnya. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Menggali potensi Desa Pusuk Lestari Lombok Barat (Lobar) yang tengah  bersiap menuju desa wisata berbasis industri lokal.  Selain memiliki pemandangan alam,  daerah yang berbatasan dengan Lombok Uara tersebut juga memiliki potensi aren yang melimpah. Industri pengolahan aren ini pun dipadukan menjadi salah satu daya pikat wisata di desa itu ke depan. Dalam waktu dekat, desa itu akan mengadakan festival minum tuak manis.  Menurut Kades Pusuk Lestari, Junaidi bahwa desanya bukan desa wisata biasa.  Namun disebutnya the real desa wisata yang mampu mengundang wisatawan lokal, domestik, dan internasional.

Junaidi melirik potensi desanya sebagai penghasil air nira dan memiliki banyak monyet. Menurutnya, 90 persen dari sekitar 800 KK warga Pusuk Lestari adalah petani. Sekitar 400 KK di antaranya bekerja mengambil air nira atau tuak manis (nyadep). Aktivitas nyadep tersebut akan dijadikan salah satu dari aktivitas pariwisata Desa Pusuk Lestari. “Bagaimana supaya terkemas menjadi wisata berbasis industri aren, yaitu cara memproses air nira menjadi gula batok, gula semut, gula meriket, termasuk gula cair,” ujar Kades Junaidi.

Untuk aktivitas pengolahan air nira menjadi bermacam bentuk ini, selain oleh sebagian besar masyarakat menggunakan cara tradisional, Pusuk Lestari juga dibantu oleh salah satu warganya melalui UD Karya Mandiri dengan brand King Aren yang diketuai Muhammad Rizani. Aktivitas ini dilakukan agar wisatawan tidak hanya merasakan nikmatnya minum tuak manis tapi juga mengikuti bagaimana proses nyadep.

“Sudah disiapkan tempatnya sebagai aktivitas masyarakat yang tinggal di perbatasan Lombok Barat dan KLU,” ujar Junaidi.

Terkait dengan monyet, Junaidi juga akan berupaya mengubah cara memberikan makanan untuk monyet di pinggir jalan yang beresiko mengganggu lalu lintas ke satu lokasi khusus. “Kami sudah menyiapkan tempat untuk memberikan makanan monyet itu”. Tempat yang disiapkan, sambung Junaidi, berada dua atau tiga ratus meter dari pinggir jalan yaitu masuk ke wilayah hutan.

Selain itu, Pusuk Lestari juga telah menyediakan jalur sepeda gunung sepanjang sekitar 1.400 meter di sekitar hutan Pusuk.“Dan itu akan kami jual untuk mendukung paket desa di wilayah desa perbatasan,” ujar Junaidi. Dengan cara demikian, sebut Junaidi, wisatawan tidak hanya sekedar menikmati kopi, tapi juga bagaimana menikmati proses pembuatan kopi, pembuatan gula baik yang tradisional maupun dengan mesin, dan cara nyadep. “Cara unik masyarakat kami untuk membikin gula, (juga) cara modern masyarakat kami membikin gula itu, sudah kami siapkan,” ujar Junaidi.

Diterangkan Junaidi, masing-masing KK yang berprofesi menyadep tuak manis mampu menghasilkan minimal 10 liter per hari. Menurut Junaidi, peminat tuak manis bukan hanya masyarakat ekonomi menengah ke bawah tetapi juga menengah ke atas.  Karena dipercaya baik untuk kesehatan. Keluhan karena tuak manis menggunakan botol bekas ke depan akan ditanggulangi. Caranya dengan menyediakan paket minum tuak manis yang masih alami di dalam bumbungnya.

Desa Pusuk Lestari memiliki empat dusun yaitu Batu Penyu, Kedondong Bawak, Kedondong Atas dan Dusun Pusuk. Masing-masing dusun selain mengandalkan tuak manis, juga memiliki potensi wisata lainnya.  Dusun Batu Penyu, misalnya, memiliki daya tarik berupa air terjun musiman dan pohon-pohon langka gaharu. Kedondong Bawak, kata Junaidi, akan dibuat agrowisata meskipun bersifat musiman seperti ketika musim durian dengan menjual paket durian.“Misalnya lima puluh ribu (rupiah) makan durian sepuasnya,” ujar Junaidi menyampaikan idenya.

Selain tuak manis, Pusuk Lestari juga memiliki andalan yang bisa dikonsumsi lainnya seperti kue bantal (tekel), umbi-umbian, buah-buahan seperti durian, nangka, dan melinjo. Selain itu, khusus di Kedondong Atas memproduki Krepek Gadung yang sudah menjadi penghasilan tetap beberapa warga.

Produk-produk yang dihasilkan selain didistribusi melalui warung-warung di Pusuk dan beberapa supermarket.  Produk gula semut misalnya, telah dikirim ke luar daerah seperti ke Bima dan Sumbawa. H. Samsuddin (38) salah satu perajin gula di Dusun Kedongdong Atas, menerangkan proses produksi gula aren tersebut. Mulai dari pergi menyadep hingga jadi gula aren. “Pertama-tama, sebelum mengambil air dari pohon aren (enau) selama dua minggu atau bahkan sampai sebulan dilakukan proses pemukulan. Setelah dipukul, dilanjutkan dengan dipotong lengan bunga aren, didiamkan minimal selama dua hari. Hal itu kita lakukan untuk melihat apakah air pohon aren itu banyak atau tidak,” ceritanya.

Untuk mengambil air aren ia menggunakan jerigen atau bisa juga menggunakan wadah yang terbuat dari bambu. Setiap hari,  Samsuddin biasanya berangkat sekitar pukul 08.00 dan  16.00 Wita untuk mengambil air aren.”Saya nyadep setiap hari di delapan pohon aren dengan menghasilkan 30 liter perhari dan diolah menjadi gula aren mendapatkan empat bongkah gula aren dengan varian harga antara 25 sampai 35 ribu sehingga menghasilkan kisaran Rp280-300 ribu perhari,” akunya.

Selain beberapa rangkaian proses nyadep tersebut, ia juga menceritakan bahwa ada beberapa yang tidak boleh dilanggar oleh para petani aren.”Ada mitos yang beredar di masyarakat bagi para petani yang mengambil air aren (nyadep), maka tidak boleh berbicara yang kotor dan bagi perempuan yang sedang menstruasi juga tidak boleh ikut serta dalam proses pengolahan air aren ini. Seorang petani aren juga tidak boleh pelit ketika orang lain meminta hasil sadepannya. Jika mitos ini dilanggar maka, air aren akan cepat mengering,” cerita Samsuddin.

Usai mengambil air aren, dilakukan proses penyaringan dengan menggunakan alat penyaring dan kadang menggunakan kain. Proses terakhir pemasakan dilakukan dalam wajan yang besar dengan menggunakan tungku tanah dan kayu bakar. Selama proses pemasakan adonan gula aren terus diaduk selama enam jam. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar air yang terkandung di dalamnya.

“Setelah kita masak di wajan besar, kemudian dimasukan ke dalam cetakan sehingga jadilah gula aren atau gula batok yang manis,” terangnya. Samsuddin sendiri merupakan salah satu anggota kelompok petani aren ‘Jaya Berkah’. Selain kelompok petani Jaya Berkah, dua kelompok lainnya di Dusun Kedondong Atas yakni Karya Berkah, dan Maju Bersama diakomodir kelompok Karya Mandiri untuk memaksimalkan produksinya. (her)