Ribuan Korban Gempa di Lobar Masih Tinggal di Pengungsian

Warga di Selat Narmada yang masih tinggal di lokasi pengungsian. Mereka mengharapkan pemerintah segera membangun rumahnya, karena musim hujan sudah mulai tiba. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Nasib ribuan korban gempa di Lombok Barat (Lobar) masih belum jelas. Menyusul usulan tambahan dana bantuan dari pusat belum disetujui. Korban gempa ini tambah bingung, lantaran musim hujan sudah datang. Banyak di antara mereka masih tinggal di lokasi pengungsian, sehingga ketika diguyur hujan kebingungan mau pindah kemana.

Kepala Pelaksana BPBD Lobar H. M. Najib mengaku masih ada korban gempa khususnya yang rusak berat belum terbangun rumahnya, sehingga masih tinggal di pengungsian.  Namun pihaknya sudah berupaya mempercepat penanganan rumah warga dengan mendebet sisa bantuan ke rekening warga.

Pihaknya sudah mendebetkan dana kepada 432 KK yang masuk usulan baru dari 1.200 KK khusus yang rusak berat. “Sisanya 800 lebih KK menunggu dana yang diusulkan dari pusat,” jelas dia.

432 KK ini, ujarnya, masuk dalam usulan tambahan ke pusat yang jumlahnya 4000 KK lebih, sehingga yang tersisa yang belum mendapatkan bantuan mencapai 3600 KK lebih.

Pihaknya memprioritaskan penanganan rusak berat, sebab kondisi hujan dikhawatirkan mengguyur warga, apalagi saat ini sudah masuk musim hujan. Sedangkan terkait rusak sedang dan ringan, bukan berarti dianaktirikan. Diakuinya, penanganan rusak sedang dan ringan ini relatif mudah dan lebih cepat dibanding rusak berat. Untuk usulan tambahan tersebut, tengah menunggu proses di pusat.

Hingga saat ini, ujarnya, pihak Inspektorat BNPB tengah melakukan verifikasi data yang diusulkan untuk mengeluarkan nama-nama  yang ditemukan ganda. “Awal November mudah-mudahan bisa keluar dananya,” ujar dia.

Seperti di Sandik Kecamatan Batulayar, warga mengeluhkan pengerjaan rumahnya yang mandek. Bahkan ada warga yang belum membangun rumahnya sama sekali akibat kesalahan pendataan. Seperti dialami Mahyudin Warga Dusun Puncang Sari Timur, Desa Sandik Kecamatan Batulayar.

Bapak delapan anak ini hanya bisa pasrah dengan kondisi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa tahun lalu. Bagaimana tidak, sampai saat ini ia belum bisa membangun rumahnya tersebut. Pasalnya rumahnya yang masuk kategori salah kamar itu hanya mendapatkan bantuan Rp 10 juta. Sementara dana  ini tidak cukup untuk membiayai pembangunan rumahnya  Akibat rumahnya belum dibangun,  selama setahun lebih ia terpaksa harus tinggal di pengungsian.

“Sudah satu tahun lebih kami tinggal di pengungsian, lihat saja kondisinya seadanya,” tutur Mahyudin. (her)