Daerah Rawan Pangan di Lobar, Masyarakat Gagal Panen Tiap Tahun

Kondisi wilayah Lobar yang rawan pangan. Lahan pertanian di daerah Mereje Lembar ini hanya mengandalkan air hujan. (Suara NTB/her) 

Giri Menang (Suara NTB) – Masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan pangan di Lombok Barat (Lobar) harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Lantaran kondisi mereka cukup memprihatinkan, masyarakat hanya mengandalkan air hujan saja baik untuk konsumsi dan keperluan bercocok tanam.  Seperti apa kondisi masyarakat yang tinggal di daerah rawan pangan?

Adalah masyarakat di Desa Giri Sasak Kecamatan Kuripan dan Batu Putih Kecamatan Sekotong. Di Desa Giri Sasak ada lima dusun yang terkena rawan pangan. Ada 1.000 KK lebih yang mendiami beberapa dusun di desa itu di antaranya Dusun Buntage, Lendang Sedi, Tanak Putek adalah daerah tadah hujan, sehingga ribuan warganya bergantung.

“Ada 1.300 KK atau 3 ribu lebih penduduk di daerah ini bergantung dari hujan baik untuk bercocok tanam, sehingga hanya bisa bercocok tanam sekali setahun,” aku Hamdani, Kepala Desa Giri Sasak, Rabu,  39 Oktober 2019.

Diakuinya, sebagian besar warganya bermata pencaharian dari sektor pertanian. Luas areal pertanian di desanya sekitar 200 hektar lebih. namun sayangnya akibat kondisi daerah yang tadah hujan ini, warganya hanya bisa bercocok tanam sekali setahun. Warga hanya bisa bercocok tanam ketika turun hujan saja. Bahkan setiap tahun, warganya mengalami gagal panen akibat kekeringan.

Tahun ini saja dari 200 hektar lahan pertanian,40 persen mengalami gagal panen, sehingga warga pun mengalami kesulitan dari sisi pangan. “Kesulitan pangan, karena gagal panen hampir 40 persen dari 200 hektar lahan pertanian warga. Ditambah lagi sampai saat ini warga belum bisa bercocok tanam karena belum turun hujan,” aku dia.

Untuk menutupi biaya makan sehari-hari, banyak di antara warganya yang menjadi buruh. Sebagian warganya terpaksa pergi ke Bali untuk bekerja untuk memenuhi biaya kebutuhan.

Hingga saat ini, ujarnya, belum ada program pembangunan penanganan kerawanan pangan tersebut. Hanya pamsimas dibangun di desanya.  Namun ia tak pernah putus harapan, sejak beberapa tahun lalu diusulkan hingga sekarang agar pemerintah mencarikan solusi terhadap masyarakatnya. Sejak lama ia mengusulkan agar dibangunkan sumur bor, dan embung serta pompa air bagi para petani. Ia pun menagih janji pemerintah akan membangun dua embung di desanya.

Tak jauh beda dialami warga di Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong. Di desa ini ada delapan dusun ditambah satu dusun persiapan, sebagian besar daerah ini masuk daerah rawan, karena berstatus tadah hujan. Empat dusun yang rawan, seperti Labuan Poh Induk, Labuan Poh Timur dan Nusa Sari serta Ketapang. Apalagi saat ini kondisi musim kemarau panjang menyebabkan kekeringan, sehingga hampir semua dusun terkena kerawanan. Tahun ini saja, warga hanya bisa bercocok tanam satu kali, karena kemarau panjang. ”Jangankan untuk tanam padi,  air besih untuk konsumsi saja susah sekali. Ini sebenarnya perlu disikapi,” jelas dia.

Diakui ada embung di daerah setempat, hanya saja areal jangkauannya untuk mengairi tidak mampu menyasar semua dusun seperti Ketapang, dan Labuan Poh. Diakui areal pertanian di desanya mengalami gagal panen tiap tahun, bahkan tahun ini gagal panen hingga 70-80 persen dari luas areal 200 hektar. “Yang bisa produksi cuman beberapa dusun karena di samping mendapatkan irigasi embung dan daerahnya basah. Sedangkan sisanya sekitar 80 persen gagal panen,” aku dia.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Loba, Mujitahidin mengakui puluhan desa di Lobar rawan pangan. Dipicu kekeringan yang melanda, sehingga kerawanan pangan ini dikhawatirkan meluas. Upaya penanganan yang dilakukan pihaknya adalah menyuplai bantuan beras,  di mana tahun ini ada 10.321 kilogram. Cadangan beras ini berkurang dibandingkan tahun lalu sebanyak 13 ton lebih.

Pengurangan cadangan beras ini diakibatkan rasionalisasi anggaran. Seharusnya, kata dia, cadangan beras tidak dikurangi mengingat kondisi kekeringan diperkirakan masih panjang. “Seharusnya dengan kondisi ini (kekeringan) jangan dipangkas, belum lagi nanti ada musim hujan, terjadi anomali cuaca sehingga menyebabkan nelayan tak bisa melaut,” ujarnya.

Idealnya cadangan beras yang seharusnya disiapkan 100 ton, mengacu pada Permentan dilihat dari jumlah penduduk, kebutuhan per kapita, tingkat kemiskinan. Melihat stok yang masih ada, ia mengaku pasti tidak cukup. Kalaupun nanti kata dia cadangan beras tak mencukupi, pihaknya bisa mengusulkan bantuan ke provinsi. Selain bantuan beras, pihaknya juga melakukan beberapa program seperti lumbung pangan dan beberapa program lainnya. (her)