Dampak Kekeringan, Puluhan Desa di Lobar Alami Rawan Pangan

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mujitahidin saat menyerahkan bantuan pangan kepada masyarakat yang mengalami rawan pangan. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Dampak kekeringan yang melanda Lombok Barat (Lobar) mengakibatkan puluhan desa mengalami rawan pangan. Terdapat 22 desa yang tersebar di tujuh kecamatan yang masuk rawan pangan, antara lain Sekotong, Lembar, Kuripan, Narmada, Lingsar, Batulayar dan Gunungsari. Kerawanan pangan ini dipicu beragam faktor, salah satunya warga mengalami gagal panen dan tidak bisa bercocok tanam akibat tidak ada air.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Lobar Mujitahidin mengatakan, dampak kekeringan yang melanda Lobar berakibat daerah rawan pangan.”Kekeringan ini mengakibatkan kerawanan pangan, sudah terjadi di beberapa daerah seperti Sekotong, Lembar, sebagian Kuripan, Batulayar, Gunungsari dan Narmada,” jelasnya didampingi Kabid Cadangan Pangan, Suana, Selasa,  29 Oktober 2019.

Ia menyebutkan, beberapa daerah yang terdeteksi mengalami kerawanan pangan, di antaranya sebagian besar Desa di Sekotong. Berdasarkan pemetaannya, Desa Buwun Mas masuk penanganan prioritas 1, karena daerah ini memiliki daerah yang rawan pangan. Desa lainnya seperti Batu Putih, Kedaro, Taman Baru masuk prioritas 2 kewanan untuk ditangani.

Selain itu, Desa Pelangan masuk prioritas 3 penanganan kerawanan bersama Desa Sekotong Barat. Hanya dua desa yang masuk zona hijau (aman) di antaranya Desa Sekotong Tengah dan Gili Gede. Di Kecamatan Lembar ada beberapa desa yang masuk kerawanan pangan yakni Desa Mareje Timur dan Sekotong Timur masuk prioritas tiga penanganan kerawanan. Desa  Labuan Tereng termasuk dalam prioritas dua kerawanan pangan.

Di Kecamatan Kuripan, hanya satu desa yang masuk rawan yakni Kuripan Selatan. Sedangkan di daerah kota air, Narmada ada juga beberapa desa yang masuk rawan yakni Desa Buwun Sejati bahkan masuk prioritas I. Karena desa ini tidak ada lahan sawah penghasil beras. Desa Sedau masuk kategori prioritas 3 untuk penanganan bersama Lembah Sempaga. Ada juga di kecamatan Lingsar, di antaranya Batu Mekar dan Langko. Ditambah dua kecamatan lainnya, ada beberapa desa masuk rawan pangan yakni  Kecamatan Gunungsari di antaranya  Desa Jeringo, Dopang, Guntur Macan, Gelangsar, Mekar Sari. Sedangkan di Batulayar ada dua desa yang masuk rawan pangan, yakni Batulayar Barat dan Batulayar

 Pihaknya melakukan penanganan terhadap daerah rawan pangan, khususnya daerah yang coklat atau prioritas 1 masuk dalam skala priotas penanganan. Upaya penanganan yang dilakukan, pihaknya menyuplai bantuan beras  di mana tahun ini ada 10.321 kilogram. Cadangan beras ini berkurang dibandingkan tahun lalu sebanyak 13 ton lebih. Pengurangan cadangan beras ini diakibatkan rasionalisasi anggaran. Seharusnya, cadangan beras tidak dikurangi, mengingat kondisi kekeringan diperkirakan masih panjang. “Seharusnya dengan kondisi ini (kekeringan)jangan dipangkas, belum lagi nanti ada musim hujan, terjadi anomali cuaca, sehingga menyebabkan nelayan tak bisa melaut,” ujarnya.

Idealnya cadangan beras yang seharusnya disiapkan 100 ton, mengacu pada Permentan dilihat dari jumlah penduduk, kebutuhan perkapita, tingkat kemiskinan. Melihat stok yang masih ada, ia mengaku pasti tidak cukup. Kalaupun nanti kata dia cadangan beras tak mencukupi, pihaknya bisa mengusulkan bantuan ke provinsi. Sejauh ini, daerah yang sudah dibantu bantu di antaranya Desa Taman Ayu sebanyak 930 kilogram, Batulayar Barat 614 kilogram, Meninting 1.678 kilogram,  Sekotong Timur 4.727 kilogram, Eyat Mayang 745 kilogram, Cendimanik 2.500 kilogram. Lalu di Dusun Mulejati, Long-longan dan Montong Galih Desa Sekotong Tengah 1.500 kilogram. Telage Lupi dan Teluk Gok 675 kilogram.

Selain bantuan beras, untuk penanganan daerah rawan pangan ini pihaknya berkoordinasi agar OPD lain ikut intervensi. Sebab indikator daerah rawan pangan, di antaranya fasilitas sarana produksi, fasilitas kesehatan, sarana sanitasi, MCK, ketersediaan lahan dan jenis lahan apakah tadah hujan atau irigasi teknis. (her)